Harga Gabah Turun dan Tangisan Seorang Gadis

Barusan aku membaca dalam berita langsung dalam koran Pikiran Rakyat edisi kemarin (22/2). Pembacaan berita aku mulai dari berita yang menurutku menarik, yakni pemindahan tempat pembuangan akhir (TPA) di Kabupaten Bandung yang berpindah dari Sarimukti ke Lengoknangka yang dipersiapkan untuk 2018 nanti ketika kontrak TPA di Sarimukti berakhir.

Kedua, aku membaca sebuah berita khas tentang kebijakan kantong plastik berbayar yang diterapkan sejak kemarin Minggu (21/2). Aku membacanya hanya karena keramaian yang timbul di berbagai media sosial dan memang hal ini yang aku tunggu karena aku juga memiliki konsen terhadap lingkungan sebagai penghuni bumi.

Ketiga, aku membaca berita tentang harga gabah, judulnya “Harga Gabah (Selalu) tak Memihak Petani”. Aku membacanya hingga tulisan bersambungnya pun berakhir. Tulisan ini menceritakan Harga Pokok Penjualan (HPP) beras tidak jauh berbeda dengan 2015 lalu. Padahal, kita dapat melihat, setiap tahunnya harga-harga kebutuhan selalu naik dan jarang sekali turun.

Missal untuk harga gabah kering di penggilingan hanya dihargai Rp3.750/kg, sedangkan di gudang Bulog dihargai Rp4.600/kg. Harga ini sangatlah kecil. Pantaslah wajar jika banyak petani kita yang masih hidup di bawah garis kemiskinan. Jika memang pemerintah ingin menyejahterakan masyarakatnya, maka harusnya pemerintah membantu menaikkan taraf hidup mereka dan bukan malah memberikan HPP yang tetap saja dari tahun lalu.

Pikiranku melayang pada ingatanku ketika pertama kalinya aku memegang kelompok tutorial mata kuliah Agama Islam. Salah satu adik tutorku merupakan anak buruh tani dan ia mendapatkan beasiswa bidik misi untuk berkuliah di Universitas Padjadjaran ini. Aku mengenang sekali masa itu.

Saat itu adalah kali pertama kami berjumpa untuk mutabaah (pengawasan). Mutabaah dilakukan seminggu sekali, maka namanya mutabaah usbuiyah (MU), tapi karena kesibukanku dan dia yang terkadang tidak dapat menyocokkan waktu, maka baru tiga minggu kemudian kami melakukan MU.

Pertemuan itu dimulai dengan menanyakan hal-hal terdekat, seperti kuliah dan teman-teman. Sesekali candaan terlontar dariku untuknya untuk mencairkan kecanggungan di antara kami. Aku pun kemudian mencoba untuk menggali kehidupannya lebih dalam, yakni dengan menanyakan keluarganya.

Aku tak bermaksud apapun. Aku hanya bertanya dari mana ia berasal dan yang terjadi kemudian adalah di luar dugaanku. Ia menceritakan keluarganya yang berasal dari buruh tani, meski begitu ia sangat bangga pada ayahnya. Ia justru dengan bangga mengatakan, ia lebih dekat dengan ayahnya daripada ibunya. Tak ada yang salah dengan itu, sungguh. Aku pun juga terkadang seperti itu jika memiliki keinginan dan membutuhkan uang ayahku, haha.

Lanjut kata, dia menceritakan kehidupan ayahnya sebagai petani yang bahagia dapat menyekolahkan anaknya hingga kuliah, bahkan kakak-kakaknya yang sudah menikah pun ia ceritakan dengan bangga. Aku turut bahagia dengannya, tak ada salahnya dengan menjadi anak seorang buruh tani. Aku justru bangga dengannya yang bisa dengan bangganya mengakui ayahnya yang memang hebat.

Kemudian, aku menanyakan bagaimana perjuangan ayahnya, aku menanyakan hal-hal spesifik mengenai gabah dan penjualan beras ayahnya. Mungkin aku salah berkata atau apa, aku mengira ia tak mengerti yang kukatakan, tapi tiba-tiba saja kepalanya tertunduk dalam. Aku hendak menyentuh bahunya perlahan dan meminta maaf jika saja perkataanku salah, tapi tanganku terhenti ketika melihat setetes air mata jatuh ke pangkuannya dan aku pun terdiam.

Ia terisak dan tak ada yang dapat kulakukan. Aku menanyakan padanya pelan, “Kenapa dek ? Duh maaf ya”. ia menjawab, “Enggak kok teh, bukan itu.” Aku semakin tak enak hati dengannya. Aku membuat anak orang menangis.

Setelah isakannya berakhir, ia pun mengatakan alasannya padaku. Ia menceritakan bagaimana perjuangan ayahnya yang kesusahan menjual padinya dengan harga tinggi karena orang justru ingin membelinya dengan HPP yang minimal. “Jarang sekali ada yang mau membelinya dengan harga lebih tinggi dari itu teh,” ujarnya sambil sesekali terisak. Aku tak tega padanya, tapi keadaanku pun tak lebih baik. Aku terbawa perasaannya (baper) pula. Walhasil, kami malah menangis bersama di Masjid Raya Unpad itu. Malu rasanya, tapi mau bagaimana lagi. Untung saja aku memilih tempat yang sedikit jauh dari keramaian sehingga tak semua orang dapat mendengar percakapan, bahkan tangisan rendah kami.

Kisahnya pun berlanjut. Raut muka yang tadinya penuh tawa tentang kebahagiaannya saat bermain di sawah bersama adik dan ayahnya pun hilang dan terganti dengan wajah sendu tentang perjuangan ayahnya. Ia menceritakan bagaimana lelahnya ayahnya yang pulang dari sawah setiap harinya. Tak lupa pula hari-hari ketika mereka kekurangan karena panen yang gagal atau penjualan beras yang uangnya tak cukup untuk kebutuhan keseharian keluarga tersebut dan banyak kisah sedih lainnya yang ia ceritakan padaku. Tak kuasa rasanya jika harus terus menahan tangis, maka bulir-bulir air mata pun berjatuhan tanpa dapat kutahan.

Di akhir ceritanya, aku mengusap pelan bahunya dan menguatkannya, “Jangan sedih dek, ayahmu berjuang ngga sia-sia kok, nih buktinya kamu di Unpad kan ?,” kataku padanya dengan senyuman lembut. “Sekarang tinggal adek mikir caranya untuk balas jasa ortu adek, gimana ? Jadi anak yang berbakti yang nggak cuma berbakti aja, tapi juga bisa bawa ortu kita ke surga dengan amal-amal kita,” tambahku. Ia menjawabku dengan senyum lembutnya dan mengusap air matanya. Aku melihat matanya bersinar akan semangat untuk membanggakan orang tuanya lebih dan lebih lagi.

Dia mungkin hanya satu di antara sekian cerita yang pernah kudengarkan, tapi ceritanya termasuk penting.

Aku paham bagaimana pusingnya mencari beras murah di zaman sekarang. Membeli beras murah dengan kualitas bagus tampak bagai mimpi di siang bolong. Pernah suatu ketika ingin rasanya membeli beras luar negeri yang mungkin lebih mahal agar tak perlu mengeluarkan tenaga ekstra untuk mencuci beras. Namun, niat itu selalu pudar jika mengingat perjuangan petani-petani negeri ini berjuang keras untuk memberi makan negeri sendiri, tetapi justru kita tidak menghargai mereka yang menanam dan malah membeli beras luar negeri.

Aku tak akan menyalahkan jika memang ada yang menyukai beras luar negeri, tak ada yang salah dengan itu. Hanya saja, menurutku, terkadang kita perlu memosisikan diri kita sebagai seorang petani yang bekerja keras atau mungkin sebagai anak petani seperti adik tutor nisa tadi.

Memang, manapun pilihan yang kita pilih, semuanya tetap terasa salah. Kita beli beras dalam negeri resikonya mahal dan kualitasnya tak seberapa bagus dan terkadang masih banyak gabahnya. Kalau kita beli beras luar negeri, kita mendapat beras yang murah dan bagus, seperti beras dari Thailand misalnya, tetapi di satu sisi kita membunuh petani kita karena beras-berasnya yang sudah dijual “murah” sesuai HPP pemerintah, tetapi tak terbeli oleh rakyat sendiri. Mau bagaimana lagi memangnya ? Kita hidup di zaman dimana pemimpinnya memang tak melindungi rakyatnya sepenuhnya dan malah membuka keran impor seluas-luasnya. Inikah pemimpin yang katanya merakyat ? Jika merakyatnya hanya untuk berskala individu, maka buat apa ?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s