Hilangnya Penumpang Angkutan Umum

Kala itu adalah hari terakhirku di Surabaya. Aku berusaha menyelesaikan semua urusanku yang belum terselesaikan. Aku memulai perjalananku ke kantor cabang Bank Mandiri untuk membuka kartu tabungan yang terblokir karena sehari sebelumnya aku ceroboh untuk mengambil uang tabungan dengan pin yang salah sebanyak tiga kali.

Tak ada yang berbeda dengan Surabaya pagi ini. Bedanya hanya satu, Surabaya tak sedingin dan sesejuk Jatinangor karena udara Surabaya selalu panas menghangatkan hingga keringat bias sebesar bulir jagung.

Sesampainya di kantor cabang Mandiri, bapak satpam ramah pun menyapa dan bertanya tentang keperluanku. Tak lama kemudian, mbak customer service melayani keperluanku dan membuka tabunganku yang terblokir. Aku pun segera mengambil uang tabunganku di mesin ATM yang tak jauh dari kantor cabang tersebut dan melangkah keluar kantor bank tersebut.

Kulangkahkan kakiku menuju tempat menunggu angkutan kota (angkot) untuk melanjutkan perjalananku. Sepuluh menit pun berlalu dan tibalah angkot yang kutunggu. Aku duduk di angkot dengan tenang sambil memainkan smartphoneku. Entahlah, awalnya bagiku tak banyak yang berubah dengan Surabaya, kota kelahiranku. Namun, itu hanya persepsi awalku. Aku meletakkan smartphoneku yang menjenuhkan ke dalam tasku dan melihat sekitar.

Terkadang, untuk memahami sesuatu, kau perlu berhenti sejenak dan mendengar. Itu kata salah satu tokoh dalam drama korea “Orange Marmalade”. Aku mengerti maksudnya dan lebih memaknainya saat itu juga. Aku mengingat keadaanku saat ini yang serba kecukupan dan tak pernah merasa kekurangan. Semua yang kuinginkan selalu tak jauh dari jangkauanku. Jika aku tak mendapatkannya, mungkin itu hanya karena aku yang terlalu malas untuk meraihnya. Padahal semua ada dalam jangkauanku, tetapi aku tak memanfaatkannya.

Tahukah kau apa yang kulihat ? Aku melihat seorang bapak berjualan sesuatu  dan sedang memanggul barang bawaannya di pundaknya. Bapak itu begitu tua dan ringkih. Bahkan, aku tak yakin kakinya akan mampu meminggul bawaannya sedikit lebih lama lagi. Hatiku miris bagai diiris sembilu. Tak kuasa rasanya menahan bulir air mata yang tiba-tiba sudah jatuh ke pangkuan. Apakah bapak itu tidak memiliki anak ? Apakah tidak ada yang memberi nafkah pada bapak itu ? Apakah tidak ada yang mau membantu bapak itu ? Berbagai pertanyaan menyerbu benakku. Namun, tak satupun dari semua pertanyaan itu yang terjawab.

Tak jauh dari tempat bapak itu berjalan, terdapat pemuda yang masih gagah. Pemuda itu bekerja sebagai satpam salah satu gedung yang dilewati bapak tua ini. Namun, yang dilakukan pemuda itu hanya berdiam diri dan menonton. Batinku semakin bertalu-talu. Semati inikah kemanusiaan masyarakat saat ini ? Inikah Indonesia yang katanya berbudi luhur ? Andai itu aku, aku pasti segera menolong kakek tersebut, sayangnya angkotku hanya lewat sepersekian detik dan melaju kencang, maka jelas tak mungkin aku bisa menolong kakek tersebut.

Tangisanku berakhir dan aku sampai di tempat perhentianku selanjutnya, Perpustakaan Daerah Jawa Timur (perpusda Jatim). Niatku ke sini hanya satu, mengembalikan buku yang kupinjam. Aku memberikan kedua buku yang kupinjam pada petugas perpustakaan dan meninggalkannya untuk diurus sementara aku duduk di sofa yang disediakan. Selang beberapa waktu kemudian aku mengambil kartu yang telah selesai diurusnya dan berjalan kembali ke terminal angkot untuk menunggu angkot kembali.

Lima menit pertama aku menunggu, ia tak datang. Begitupun di lima menit kedua. Aku bertanya-tanya kemanakah angkot sekarang ? Tadi berseliweran (mondar-mandir), sekarang seakan-akan tak ada sama sekali dan hanya terlihat sepeda motor dan mobil sejauh mata memandang. Dimanakah angkot ? tanyaku dalam hati. Lima belas menit berlalu dan angkot yang kutunggu tak kunjung datang. Terbersit dalam hati untuk berjalan kaki ke rumah, tetapi lamunan manisku itu terputus ketika seorang ibu menanyakan padaku sebuah alamat samsat kantor polisi. Aku pun menjawabnya dengan hati-hati hingga ibu itu paham dengan arah yang kuberikan dan ia pun melaju pergi bersama suaminya. Tak berapa lama kemudian angkot yang kutunggu tiba. Bapak angkot yang kunaiki kendaraanya ini berwajah ramah dan teduh. Ia tak menunjukkan raut wajah seorang perokok dan ternyata ia memang tidak merokok selama perjalanan. Ia bertanya padaku kemana aku akan pergi dan aku menjawab “hotel weta”, sebuah hotel dekat taman Ekspresi, sebuah taman di Surabaya. Bapak itu hanya menjawab dengan senyuman. Angkotku berjalan perlahan, tak terlalu cepat dan tak terlalu lambat. Sesekali, bapak angkotku mengetem, tapi tidak lama. Mungkin ia menunggu penumpang, pikirku.

Tiba di tempat ngetem untuk yang entah keberapa kalinya, bapak angkot bertanya padaku. “Nang endi yo penumpange neng ?,” (Dimana ya penumpangnya neng?) tanyanya padaku. Kepalaku terangkat sejenak menatap raut bapak angkot tersebut. Ini adalah kali kedua aku ditanya bapak angkot dalam hari ini.

Ya. Aku pernah ditanyai seperti itu pula oleh bapak angkot pertamaku yang mengantar ke perpusda. Pertanyaannya pun sama. “Neng nang endi kabeh yo penumpange ?.” (Neng, dimana semua ya penumpangnya?) Aku hanya menganggapnya tak berarti karena kala itu aku pun sedang memegang smartphoneku dan aku pun menjawab ala kadarnya, “Mungkin akeh sing ndak pengen metu dina iki pak.” (Mungkin banyak yang tidak ingin keluar hari ini pak). Bapak angkot pertamaku pun hanya membalasku dengan senyuman dan aku yang merasa percakapan itu telah selesai pun langsung tenggelam kembali dengan smartphoneku.

Sekarang, aku mendengar pertanyaan itu lagi. Aku yang awalnya ingin menunduk melihat smartphoneku pun terhenti dan menaruhnya dalam tas. Aku mulai memperhatikan raut bapak sopir angkotku. Ia melihat ke depan, ke belakang, seakan-akan berharap seseorang akan muncul. Kemudian angkotku bergerak lagi. Selang beberapa belokan, bapak angkotku memberhentikan kendaraannya. Ia melakukannya lagi. Ia menatap jauh ke depan, ke samping jalan, ke belakang. Di belokan ketiga, hal itu terjadi lagi. Ia menoleh ke depan, samping, dan belakang lagi. Aku memerhatikannya dengan seksama. Bapak angkot yang mulai menyadari bahwa aku memperhatikannya pun mengajakku berbicara lagi dengan topik yang sama. “Nang endi yo neng penumpange ?” (Dimana ya mbak, penumpangnya ?) tanyanya padaku. Aku menatapnya dengan sorot teduhku dan menjawab pelan, “Kulo mboten ngertos nggih pak” (Saya tidak tahu pak). Aku mencoba memulai percakapan dengan lebih baik dan bertanya dengan nada hati-hati, “Niki sejak kapan pak, kosong penumpange ?” (Sejak kapan penumpangnya sedikit pak ?). “Emboh mbak. Wes suwe pokoke” (Tidak tahu mbak. Sudah lama yang pasti) jawabnya dengan muka sedih dan pasrah akan keadaannya.

Aku tak lagi berani untuk memulai percakapan. Kualihkan pandanganku sesuai dengan pandangan supir angkotku yang mencari-cari penumpang. Aku berdoa dalam hati semoga ada penumpang yang ingin pergi dengan angkot ini. Aku yakin Allah tak akan membiarkan seorang hamba-Nya tak mendapatkan rezeki bagiannya. Allah telah membagikan rezeki kepada setiap hamba-Nya mulai ia lahir hingga ia meninggal dan Allah juga berjanji tidak akan mencabut nyawa seseorang hingga semua nikmatnya terpenuhi, termasuk rezekinya. Aku yakin itu.

Setelah beberapa kali belokan, Alhamdulillah ada yang naik angkot lagi, seorang bapak tua. Ia duduk di depan bersama dengan sopir angkot. Selang beberapa waktu, mereka berdua berbincang-bincang dan tertawa beberapa kali. Aku senang melihatnya. Tak lama setelahnya, angkotku sampai di Hotel Weta dan aku pun turun. Aku membayar angkotku dan memberikan 2 coklat pada kedua bapak itu. Aku memberikannya untuk camilan selama perjalanan. Kedua bapak itupun tersenyum dan aku memberikan senyuman terbaikku untuk mereka berdua. Setelah angkot itu menjauh, aku berpaling dan melihatnya menjauh. Aku sampaikan doa pada Allah di atas sana untuk memberkahi kedua orang tua itu dimanapun mereka berada dan mempermudah urusan keduanya.

Entah mengapa aku menulis tulisan ini. Aku miris dengan keadaan yang terjadi, tetapi aku tak bisa menyalahkan siapapun. Sejatinya, bukan seseorang yang bersalah, tetapi sistemlah yang membuatnya. System yang diterapkan tak hanya di negeri ini, tetapi juga diterapkan di dunia ini membuat semua negeri di dunia saat ini memburuk dan inilah yang terjadi saat ini.

Namun, tak ada yang kusesali dari perjalanan terakhirku di Surabaya ini. Semuanya menyenangkan. Setidaknya, hari ini aku dapat memahami hidup lebih baik dari hari kemarin dan paham bahwa perjuangan menegakkan syariat Islam di bumi Allah ini tak boleh kenal lelah karena aku berjuang untuk orang-orang ini. Untuk orang-orang yang kesakitan karena system demokrasi, yang tak adil dan tak berperikemanusiaan ini, membuat mereka sengsara. Harta mereka dirampas dan duit mereka dipalak. Tak habis-habisnya negeri ini dijarah oleh kapitalisme modern saat ini. Maka, dari itu, untuk inilah saya berjuang. Untuk orang-orang yang tertindas inilah aku berjuang. Untuk mengembalikan syariat Allah pada tempatnya dan mengembalikan Allah sebagai satu-satunya pemilik hukum.

Tulisan ini ditulis 20/01/2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s