Pahlawan Yang Tak Pernah Mengaku

“Dari mana saja kamu hah ? Dasar bocah ! Sudah kelas enam kamu itu, nduk ! Mau jadi apa kamu kalau kamu main game online terus !” bentaknya kepada seorang anak berumur 12 tahun yang menatapnya tanpa dosa seakan tak bersalah.

“Kamu itu nakalnya ga ketulungan !, lanjutnya lagi sambil menjewer anak itu dan menariknya yang sedang berada di depan pintu menuju kamar mandi di rumahnya bagian belakang. “Aww.. Sakit, pak !,” keluh sang anak selama perjalanan menuju kamar mandi rumahnya.

Sesampainya di kamar mandi, sang bapak menceburkan kepala anaknya ke dalam bak mandi. Sekali, dua kali, tiga kali, tak cukup pula sang Bapak menceburkan kepala anaknya itu ke dalam bak mandi. “Kamu mau jadi apa kalau main game terus, nduk ? Jadi tukang becak ? Kamu mau berhenti sekolah dan bolos tiap hari buat itu ? Iya ? Jawab Bapakmu ini !,” bentak Bapak dengan suara bass yang biasanya menenangkan, namun sekarang suara menenangkan itu hilang entah kemana.

Sang anak meronta-ronta meminta dilepaskan. Ia lelah dan penat setelah bermain dan yang ia inginkan hanyalah berada di tempat tidur secepatnya. Ia tak menyangka, Bapaknya pulang lebih cepat dari dugaannya dan tak biasanya ia melihat sang Bapak semarah ini padanya. Apalah daya, ia hanya seorang anak kecil yang tak mampu melawan tenaga Bapaknya. Ia hanya terdiam dan mencoba memahami perkataan Bapaknya.

Sang ibu pun terbangun melihat kegaduhan di rumahnya dan mencoba menghentikan kemarahan sang Bapak. “Pak, udah pak. Anake wis sadar kok. Tenang pak, tenang,” ujar sang ibu menenangkan suaminya. Akhirnya, drama malam itu pun berakhir dan tanpa mereka sadari seorang gadis kecil menyaksikan semuanya dari balik kamarnya.

*****

Namaku putri. Saat ini usiaku hampir 20 tahun, Ibuku 49 tahun, Bapak 50 tahun, dan kakak-kakakku yang cantik, Ima (25), Ila (23) dan abangku satu-satunya, Nain yang usianya menjelang 22 tahun. Tak lupa juga ada adik-adikku Dahlia (19), Fatih (17), Raisa (14), dan adik kecilku, Cholis, yang usianya menjelang 12 tahun. Kami hidup dalam keluarga kecil yang sederhana dan berkecukupan. Well, mungkin tidak bisa dibilang berkecukupan. Kami terkadang hidup lebih dari cukup dan terkadang berlebihan.

Dengan anak yang begitu banyak, tak pelak membuat Bapakku mencari nafkah ke sana ke mari hanya untuk mencari lembaran kertas hijau. Mungkin aku tak ingin membagi kisah bagaimana biografi Bapak, tetapi aku lebih suka untuk membagi bagaimana akhirnya Bapakku yang hebat ini membentuk kami berdelapan, gumamku pada awan dengan mata menerawang jauh

*****

Kala itu, aku masih berusia sekitar 1.5 tahun dan abangku senang sekali bermain denganku yang masih menggemaskan. Ia menggandengku ke mana-mana. Namun, suatu ketika saat kami liburan bersama ke Candi Borobudur, abangku begitu terpukau dengan candi itu dan tak memperhatikanku. Tangannya melepaskanku dan ia berjalan sendiri. Aku yang bersuara lemah hanya bisa memekik pelan, “Bang.. Abang…” Namun, tak seorang pun dari keluargaku yang mendengarku. Semua berjalan berdampingan, Mbak Ima dan Mbak Ila bergandengan, begitu pun Bapak dan Ibuku.

Aku tertunduk sebentar untuk mencerna semuanya. Aku sendirian dan aku tak mengenal seorangpun. Saat kudongakkan kepalaku, semua yang aku kenal telah menghilang. Aku tolehkan kepalaku ke sana-ke mari, tapi tak ku temukan jua. Aku pun terduduk dan menangis. Ku tutupkan tanganku ke mukaku agar tak seorangpun tahu aku menangis.

Entah berapa lama aku menangis, tiba-tiba saja seseorang menepuk pundakku. Aku menolehkan kepalaku ke arahnya dan aku melihatnya, abangku yang hebat, berdiri di hadapanku dengan senyum sumringahnya. Ia menarikku berdiri dan menggandengku lagi selama kita di Candi Borobudur.

Sepulang dari sana, semua anggota keluargaku tidur, termasuk aku. Akan tetapi, tiba-tiba saja suara Bapak mengusikku. “Buat mbak-mbakmu sama ibumu, mungkin bapak ini adalah pahlawan keluarga ini, tapi buat adik Putri, pahlawannya bukan bapak. Buat dia, kamu adalah pahlawannya karena kamu yang selalu ngejagain dia. Adikmu itu mikirnya simpel, semua yang dilihatnya baik, dianggap baik. Dia nggak pernah prasangka buruk sama orang. Makanya, bapak pengen kamu jangan berubah dan ngebuat kecewa adekmu dan ninggal adekmu gitu lagi kayak tadi, mas,” nasihatnya pada abangku. Abangku hanya diam sejenak kemudian mengangguk. Pembicaraan itu berakhir dan tak ada yang tahu, aku memperhatikan mereka.

*****

Mengingat kisah itu membuatku teringat akan keadaan abangku setelahnya. Ia tak pernah mengecewakanku lagi. Apapun masalahku, ia selalu di sampingku. Aku tak pernah memikirkan tentangnya hingga hari ini. Begitu banyak yang berubah, keluargaku bertambah dan saudaraku bertambah, tetapi sikap abangku terhadapku tak pernah berubah. Ia tetap menjagaku sekalipun ia memiliki 3 adik tambahan. Ia seakan-akan menomorsatukanku dalam prioritas hidupnya dan aku tak pernah menyadari hal ini hingga hari ini.

Pernah suatu ketika ia menjemputku bersama adikku, Cholis. Kami berboncengan bertiga dan tiba-tiba saja turun hujan. Kami pun memakai 1 jas hujan untuk bertiga, tetapi abangku hanya memakai ujung jas hujan agar tasnya tidak basah, dan yang memakai kepala ponconya adalah Cholis. Abang pun menyuruhku untuk masuk ke dalam jas hujan dan menaikkan kakiku di pijakan motor dan bukannya Cholis. Ia menjagaku agar tak kedinginan, ia tahu betapa rapuhnya aku jika terkena dingin kelamaan.

Di saat yang lain, ketika kami bersekolah di SMA yang sama, abangku menjagaku dengan sikap protektifnya selama setahun penuh saat ia di kelas 3 SMA dan aku di kelas 1 SMA. Ia menjagaku dari semua lelaki yang hendak mengajakku jalan. Awalnya, aku tak mengerti akan sikapnya, tapi aku mengerti sekarang. Ia hanya ingin menjagaku dari setiap kejahatan yang dapat merusakku jika seandainya aku terjerumus meski sekejap saja. Ia memang abang terbaikku dan aku tak pernah lupa siapa yang mendidiknya untuk menjadi hebat seperti sekarang. Ia, dialah Bapakku yang hebat.

Bapakku yang hebat yang dapat menafkahi kedelapan anaknya dan istrinya tanpa meminta bantuan kakek-nenekku yang sebenarnya sudah mapan pula. Kau tahu ? Benarlah apa yang dikata Rasul jika umur 7-12 tahun adalah masa dimana anak-anak sangat membutuhkan kehadiran Bapaknya karena aku merasakannya.

Sekalipun abangku adalah pahlawanku, sosoknya tak pernah menggantikan Bapak. Bagiku, Bapak adalah sosok yang tak pernah kuraih. Ia terlalu jauh. Ia terlalu sibuk. Itu pikirku dulu saat aku belum mengerti tentang kehidupan ini. Namun, meski ia terlalu jauh, aku ingin mengenalnya lebih baik lagi dan aku penasaran tentangnya. Mengapa ia tak sering berada di rumah ? Mengapa ia harus pergi lama ? Mengapa kami jarang sekali berjumpa dengannya lagi semenjak adik terakhirku lahir ?

Semua pertanyaan kekanakan ini muncul di benakku tanpa dapat kuhentikan. Tak semua pertanyaanku dapat terjawab saat aku berusia 12 tahun, tetapi perlahan tapi pasti, aku mengetahui jawaban-jawaban dari semua pertanyaanku.

*****

“Mi, bapak kok nggak pernah pulang ?” tanyaku yang polos saat itu pada ibuku. Ibuku yang kaget dengan model pertanyaanku pun menjawab cepat, “Hus ! Bapak itu cari duit, mbak ! Nggak usah mikir yang aneh-aneh ya. Bapakmu itu mikirin kalian kok,” ujarnya menenangkanku kala itu.

“Mi, bapak kok pulangnya lama ya ?” tanyaku tak lama berselang sekitar 3-4 bulan setelah pertanyaanku yang pertama. Ibu menatapku kebingungan dan menjawab asal, “Udahlah mbak, sana main saja sana.”

Pertanyaan terus bertumpuk di benakku dan puncaknya aku memberanikan diri berencana untuk menerobos masuk ke kamar orang tuaku dan menanyakannya secara langsung pada ibuku dan aku bertekad, kali ini aku harus mendapat jawaban yang pasti dan tidak asal-asalan.

Sesampainya di depan kamar ibuku, aku hendak memutar kenop pintu untuk memasuki kamarnya, tetapi sesuatu menahanku. Aku mendengar suara tangisan dari dalam. Awalnya aku tak percaya dengan suaranya, tetapi suara itu semakin terdengar jelas saat kudekatkan telingaku pada pintu kamar tersebut.

“Mas, anakmu nanyain lagi,” ujar ibuku pada suara di telepon, pikirku. “O ya ? Siapa ?,” tanya Bapak dalam telepon yang suaranya memang dikeraskan. “Siapa lagi ? Anakmu yang penasaran itu, si Putri,” jawab ibuku masih terisak. “Aku nggak ngerti harus jawab apalagi ke dia, Mas. Anakmu kangen sama Bapaknya, Mas,” lanjut ibuku. Bapak hanya terdiam dan tak menjawab. Ibu memanggil Bapak beberapa kali dan akhirnya ayah pun menjawab, “Tahukah kau, aku mencari uang untuk siapa ? Tidakkah kau merasa Ila dan Putri memiliki kesamaan ? Mereka memang terlalu menyayangi Bapaknya,” katanya diselingi tawa renyahnya. “Sekalipun abangnya pahlawannya, bagi Putri, kaulah pahlawan sesungguhnya yang layak ia puja. Ia membutuhkanmu, Mas,” pinta Ibu sekali lagi. Bapak terdiam lama tanpa jawaban. “Maafkan kami yang membebanimu ya, Mas. Kita terlalu banyak ya,” lanjut ibuku lebih jauh dan isakannya mulai terdengar lagi. Bapak tak menyahut balik dan ibu memanggil-manggilnya lagi beberapa kali dan ia terdiam saat mendengar Bapak menyahut dan berkata, “Tidak, kalian bukan beban. Kalian adalah anugerah terindah yang diberikan-Nya padaku. Sabar, katakan padanya untuk menungguku sebentar lagi. Sabar, ya. Sebentar lagi kok.”

Aku tak tahan mendengarnya. Tanpa kusadari, air mata telah berlinangan di pipiku. Semuanya terjawab sudah. Aku tak perlu jawaban lagi. Aku pun berlari menuju ke kamar dan menaiki kasur secepat yang aku bisa. Aku menangis semauku di bantal tidurku. Aku berharap adikku, Shofi, yang sekamar dan tidur di kasur bawah tak mendengar tangisanku dan sudah terlelap dalam buaian tidurnya.

*****

Sejak hari itu aku tak pernah menanyakan tentang kepergian Bapak yang lama. Aku sudah punya jawabannya. Ibuku pun keheranan melihat sikapku yang berubah dan menjadi tidak penasaran lagi tentang Bapak.

Aku pun bersikap beda. Aku tersenyum setiap Bapak pulang. Setiap ia pulang lama, tak kutanyakan kepergiannya. Namun, jika ia pulang, aku mengajaknya bermain dan ia bertingkah konyol yang mengundang gelak tawa kami sekeluarga. Ia juga selalu membawa buah tangan yang begitu banyak jika ia pergi lama. Itulah Bapakku yang tegar menghadapi semua masalah di keluarga kami, tapi tak pernah mengeluhkan tentang banyaknya kami.

*****

Pernah suatu ketika adikku, Cholis, bermain ipad hasil jerih payah Bapak. Ia bermain tiada henti hingga ia lupa waktu. Ketika ia bermain ia berkata, “Mi, sepatu adek kotor, beliin yang baru ya.” “Ya sudah dicuci saja kan bisa,” sahutku yang berada di dekatnya. “Nggak mau ah ! Lagian kan Bapak banyak uangnya. Minta beli lagi aja gampang,” balasnya dengan santai.

Telingaku memanas. Amarahku naik seketika saat mendengar nada bicaranya yang sok. “Heh ! Kamu pikir cari uang gampang apa ?,” bentakku padanya dengan mata melotot. Cholis yang aku tahu polos atau pura-pura polos itu menatapku bingung. “Ya kan yang cari duit Bapak, kenapa mbak yang sewot ? Mbak kan sama saja denganku yang nggak ngapa-ngapain dan cuma nadah minta uang ke Bapak,” katanya lagi dengan muka tak bersalah dan nada soknya. “Dek ! Kamu itu ngomong apa sih ? Sekalipun cuma nadah saja, kamu nggak pernah mikir susahnya bapak dapetin itu semua uangnya hah ?,” bentakku lagi padanya. “Jangan kamu pikir cari uang itu gampang ya ! Bapak itu harus pergi 2bulan sekali dan pulang ke rumah pun jarang itu demi semua gaya hidupmu yang hedonis itu ! Biar kamu nggak malu kalau kamu nggak punya  ini-itu, biar kamu itu nggak kekurangan, biar kamu nggak merasa nggak punya apa-apa. Semuanya itu demi kamu dek, tapi kamu sampai setega itu ke Bapak ? Mikirin pun engga, tapi kamu nadah terus ! Nggak ada terima kasih-terima kasihnya ! Gitu kamu masih nggak mikirin bapak ? Kamu keterlaluan !,” bentakku kencang di hadapannya dengan mukaku yang sudah memerah dan menahan tangis.

Adikku terdiam dan berpucat pasi melihatku telah berdiri tegak di hadapannya seakan-akan aku akan melahapnya yang tengah duduk di sofa ruang tamu. Ia terdiam dan tak menjawabku lama. “Kalau kamu masih berani bilang kalau Bapak itu mesin uang yang bisa kamu mintain terus buat beli barang-barang nggak pentingmu itu, bilang sama aku sini. Tak tampar kamu sini biar kamu sadar diri !,” tegasku sekali lagi padanya. Segera setelah itu aku pergi ke kamarku untuk mengurung diri sejenak dan menahan tangisku yang tumpah karena penghinaan adikku pada Bapak.

Berselang setelah tangisan itu, aku yang lapar pun hendak menuju ruang makan, tetapi aku mendengar suara dari kamar Cholis. “Sudah nggak usah sedih lagi. Mbakmu nggak marahin kamu kok, Lis,” tenang ibuku padanya. “Bukan itu mi. Adek tahu kok, adek yang salah, Mbak Putri bener mi,” jawabnya pada ibuku. “Adek nggak pernah belajar tentang detail-detail tentang Bapak kayak gitu. Maaf ya mi,” lanjutnya. Ibuku hanya terdiam dan berkata, “Iya nggak apa-apa, Lis. Yang penting kamu tahu kan sekarang ? Bapakmu cari uang itu nggak gampang, nduk.

*****

Adikku tak pernah gampang meminta uang pada Bapak sejak saat itu. Ia berpikir ratusan kali untuk akhirnya meminta barang-barang yang baru pada Bapakku. Aku tak tahu bahwa bentakan-bentakanku ternyata cukup berefek padanya. Setidaknya, sekarang ia berpikir lebih baik untuk meminta-minta pada Bapak. Seperti yang aku katakan, Bapakku bukanlah mesin uang yang bisa diambil uangnya setiap saat. Perjuangan setiap Bapak di dunia ini mencari nafkah tidaklah mudah, tapi toh tidak ada Bapak yang mengeluh mencari nafkah jika itu untuk kehidupan dan masa depan anak-anaknya. Itulah Bapakku, yang tak pernah mengeluh tentang banyaknya kami dan malah menganggap kami semua adalah anugerah terindah yang pernah diterimanya. Itulah bapakku, pahlawan yang tak pernah mengaku, tetapi kami, anak-anaknya, tahu siapa pahlawan sesungguhnya dalam keluarga kecil ini, tulisku dalam buku diaryku dan menutup catatanku tentang hebatnya ayahku.

Tulisan ini ditulis pada 09/11/2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s