Ciliwung, Sungaiku Sayang, Sungaiku Malang

Sungai Ciliwung. Sungai yang menjadi ikon ibukota negara kita, Indonesia. Menurut id.wikipedia.org, panjang aliran utama sungai ini adalah hampir 120 km dengan daerah tangkapan airnya (daerah aliran sungai) seluas 387 km persegi. Sungai ini relatif lebar dan di bagian hilirnya dulu dapat dilayari oleh perahu kecil pengangkut barang dagangan. Hulu sungai ini berada di dataran tinggi yang terletak di perbatasan Kabupaten Bogor dan Kabupaten Cianjur, atau tepatnya di Gunung GedeGunung Pangrango dan daerah Puncak. Wilayah yang dilintasi Ciliwung adalah Kabupaten BogorKota BogorKota Depok, dan Jakarta.

Menurut forum.kompas.com, sekitar abad 15-16, Ciliwung merupakan sebuah sungai indah, berair jernih dan bersih. Ia dibangun secara artistik mengalir di tengah kota. Bebas, tidak berlumpur, dan tenang. Bahkan, air sungai Ciliwung digunakan sebagai air minum penduduk. Berkat sungai Ciliwung yang bersih, Batavia (nama Jakarta pada masa itu) mendapat julukan ‘Ratu dari Timur’ dari para pendatang asing karena keindahannya yang tidak kalah dengan Venezia. Pada masa awal Batavia, perahu kecil berlayar di sepanjang Ciliwung untuk mengangkut barang dari gudang dekat Kali Besar ke kapal yang berlabuh di laut. Banyak kapten kapal tersebut singgah untuk mengambil airnya yang segar  untuk diisikan ke botol dan guci mereka. Para noni-noni Belanda juga senang berpiknik di tepian sungai itu sambil menikmati angsa-angsa yang hidup bebas di atas sungai Ciliwung.

Pada pertengahan 1630, Sungai Ciliwung mengalami pengendapan. Timbunan lumpur dan tanah liat bertumpuk di parit yang digali untuk melancarkan aliran air ke dan dari sungai. Untuk mengatasinya dibangun sebuah parit sepanjang 800 m ke laut yang secara rutin digali untuk melancarkan aliran air sungai. Panjang parit bertambah sampai 1.350 m (1827) dari muara sungai akibat pasir dan lumpur yang terus bertumpuk apalagi dengan adanya gempa bumi pada bulan Januari 1699.

Menurut http://www.jakarta.go.id, pada tahun 1740 air sungai ini sudah dianggap tidak sehat karena segala sampah dan buangan air limbah rumah sakit dialirkan ke sungai. Banyak pasien menderita disentri dan kolera. Air minum yang kurang bersih ini menyebabkan angka kematian yang sangat tinggi, maka kemudian orang tidak lagi menjuluki Batavia sebagai “Ratu dari Timur”, melainkan “Kuburan dari Timur”. Bencana ini berdampak pada pemerintahan di Batavia yang mulai goyah karena banyak pihak saling tuding terhadap musibah tersebut.

Sejak membludaknya arus urbanisasi ke daerah Jakarta, pendangkalan Ciliwung dan sungai-sungai kecil lainnya terus terjadi tanpa diimbangi pengerukan lumpur yang layak. Pada 1960-an, misalnya saja, sejumlah sungai kecil masih bisa dilayari perahu dari luar kota. Waktu itu kedalaman sungai mencapai tiga meter. Akan tetapi, kini kedalaman air tidak mencapai satu meter. Sekarang, Ciliwung adalah sebuah sungai kecil dengan pemandangan rumah-rumah kecil kumuh di kiri dan kanannya. Kalau sedang surut airnya, terlihat lumpur hitam dan sampah yang menggunung terutama sampah plastik.  Kalau sedang turun hujan terlihat airnya yang berwarna keruh juga bercampur dengan sampah. Ciliwung menjadi salah satu kambing hitam terjadinya banjir di Jakarta karena intensitas curah hujan yang tinggi tapi sungainya tidak mampu menampung air karena terjadinya pendangkalan sungai. Banyaknya permukiman kumuh di Jakarta menyebabkan Ciliwung beralih fungsi menjadi “tempat pembuangan sampah dan tinja terpanjang di dunia”. Sungguh ironis dan miris.

Keberadaan Sungai Ciliwung memang sangat penting bagi kehidupan warga Jakarta. Sebagai urat nadi, kesehatannya perlu dijaga agar mampu menjalankan fungsi dengan baik. Namun, keberadaannya yang kian penting tidak lantas membuat warga Jakarta sadar untuk merawat dan menjaga kesehatannya. Bahkan, kian hari kian banyak sampah yang menutupi aliran air dan seiring perjalanan waktu kian banyak rumah-rumah warga yang berdiri di sekitar bantaran Sungai Ciliwung.

Kondisi yang semakin parah membuat Sungai Ciliwung tidak mampu menjalankan fungsi dengan baik. Maka tak heran bila setiap musim penghujan datang, banjir kerap menghampiri warga Jakarta. Terutama bagi mereka yang tinggal dibantaran Sungai Ciliwung. Bahkan, luas genangan banjir dari tahun ke tahun kian meluas. Pada tahun 2007 saja tercatat banjir telah mengenangi hingga 70% meter persegi wilayah Jakarta. Padahal pada tahun 2002 luas wilayah Jakarta yang tergenang banjir baru sekitar 24% meter persegi. Perbedaan luas genangan banjir yang mencolok menggambarkan potret Jakarta yang kian memprihatinkan dari tahun ke tahun. Banjir di Jakarta yang terus meluas memang dampak langsung dari kerusakan Sungai Ciliwung yang kian parah.

Semakin sedikitnya lahan hijau juga ikut menyumbang terjadinya banjir. Pasalnya, lahan hijau mampu menyerap air hujan yang jatuh ke tanah. Semakin sedikitnya lahan resapan, maka air hujan yang jatuh hanya sebagian kecil saja yang terserap ke dalam tanah dan sisanya melimpah ke permukaan. Data dari Departemen Pekerjaan Umum (PU) dalam fwh89.blogspot.com mengungkapkan bahwa setiap 100 mm air hujan yang jatuh di Jakarta, sekitar 40 mm terserap ke dalam tanah. Air limpasan 60 mm saja. Kini, yang terserap paling banyak hanya 15 mm alias 15%. Air limpasan pun makin menggila. Berdasarkan Data Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) menunjukkan, tahun 1985 Jakarta masih memiliki ruang terbuka hijau (RTH) seluas 29%. Angka itu turun menjadi 25% pada 1995. Bahkan, mulai tahun 2000, angka RTH ini terjun bebas hingga tersisa 9,4% saja. Jauh dari kondisi ideal minimum yang 27,5%. Jika kondisi ini terus terjadi bukan tidak mungkin banjir akan terus menghampiri warga Jakarta, bahkan dengan intensitas yang lebih besar.

Arus urbanisasi yang besar dari berbagai daerah ke daerah Jakarta termasuk salah satu penyebab pencemaran Sungai Ciliwung. Para urban yang datang kemudian bermukim di Jakarta bahkan juga menempati bantaran sungai Ciliwung yang dapat kita lihat sampai sekarang. Mereka melakukan aktivitas MCK di sungai Ciliwung, bahkan membuang sampah pun tidak hanya dilakukan oleh warga yang tinggal di bantaran sungai tersebut, tetapi ada warga lain yang benar-benar secara sengaja membuang sampah ke sungai tersebut. Sedikit demi sedikit kemudian sampah-sampah itu menjadi bukit sampah di dalam Ciliwung. Tidak hanya sampah kebutuhan sehari-hari, tetapi juga ada lemari atau tempat tidur yang sudah tidak terpakai mengapung di Ciliwung karena memang sengaja dibuang.  Sadar atau tidak sadar, membuang sampah telah menjadikan Ciliwung berubah menjadi jelek. Pernah pemerintah membuat alternatif untuk mengatasi kemacetan ibukota dengan membangun angkutan air yang melintasi Ciliwung, tetapi tidak beroperasi dengan baik karena baling-balingnya selalu tersangkut sampah dari dalam sungai sehingga perahu tidak bisa berjalan.

Permukiman kumuh kian menambah deretan panjang permasalahan sosial di kota-kota besar di Indonesia. Di Jakarta permukiman kumuh tidak hanya merusak pemandangan kota tetapi juga ikut merusak kesehatan sungai. Dengan panjang sekitar 60 kilometer bantaran Sungai Ciliwung telah dipenuhi permukiman kumuh. Hal itu mendorong penyempitan badan sungai. Dampak yang ditimbulkan secara langsung ialah daya tampung dari Sungai Ciliwung dalam mengalirkan air semakin berkurang. Sebagai urat nadi, penyempitan badan sungai bisa berakibat fatal bagi perkembangan drainase di Jakarta. Hal itu jelas akan mendorong terjadinya banjir ketika musim penghujan tiba. Selain itu, dampak sosial lain yang ditimbulkan seperti menurunnya kualitas hidup masyarakat bantaran kali, banyak penyakit yang kapan saja bisa mengacam, dan risiko terseret aliran Sungai Ciliwung ketika meluap kian membayangi masyarakat.

Ciliwung memiliki masalah yang kompleks, bukan cuma soal banjir, pemukiman kumuh dan sampah. Salah satu masalah yang dihadapi Ciliwung adalah menyusutnya keragaman flora dan faunanya. Pencemaran di sungai Ciliwung terus terjadi. Akibatnya, kematian biota di Sungai Ciliwung menjadi dampak langsung akibat pencemaran. Kerusakan biota di sungai juga menjadi masalah yang dihadapi. Pasalnya, kondisi tersebut mengancam keberlangsungan dan kelestarian dari suatu ekosistem yang ada di dalamnya. Perlu adanya tindakan tegas dari pemda dalam mencegah pencemaran kian meluas. Saat ini memang hampir semua sungai di Jakarta telah tercemar limbah berbahaya tidak terkecuali Sungai Ciliwung. Data Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dalam megapolitan.kompas.com mengungkapkan, sekitar 92 persen ikan di wilayah Ciliwung sudah punah. Sementara, 66,7 persen mollusca dan crustacea juga sudah hilang dari sungai ini. Hal itu tak lepas dari aktivitas perusakan oleh manusia. Salah satu perusakan yang kini masih berlangsung adalah penangkapan ikan dengan tuba atau racun. Pernah ada penemuan bulus raksasa Chitra chitra javanensis di Ciliwung pada 11 November 2011 lalu yang menunjukkan bahwa Ciliwung masih menyimpan sumber daya alam hayati yang berharga. Studi ekologi dan keanekaragaman hayati Ciliwung penting dilakukan sehingga menjadi landasan kegiatan konservasi sungai terbesar yang membelah Jakarta itu. Ciliwung dan keanekaragaman hayatinya kini semakin terancam. Wilayah daerah aliran sungai di hulunya terancam oleh pembangunan perumahan dan fasilitas wisata. Belum ada ketegasan dalam penggunaan lahan daerah aliran sungai.

Faktor utama yang kedua ikut menyumbang masalah bagi kesehatan sungai Ciliwung ialah faktor alam. Faktor alam ini bersifat perlahan tapi pasti dan dibutuhkan penanganan yang serius dan berkesinambungan sehingga dampaknya bisa dikurangi atau dicegah.

Hal pertama yang menyumbang kerusakan Sungai Ciliwung dari faktor alam ialah pendangkalan sungai. Pendangkalan sungai biasanya terjadi pada wilayah hilir sungai atau muara sungai. Hal itu disebabkan derasnya aliran air yang mampu mengikis batuan dan tanah yang dilewatinya. Yang kemudian menimbulkan endapan bagi wilayah hilir atau muara sungai. Kondisi tersebut membuat fungsi dari sungai mengalami penurunan akibat endapan. Jika hal ini terus berlangsung tanpa adanya penanganan, maka banjir akan melanda setiap musim penghujan. Pengendapan pada sungai akan berlangsung terus menerus tanpa bisa dihentikan. Namun, penanganan dapat dilakukan dengan melakukan pengerukan sungai yang dilakukan secara berkala. Program ini bisa menjadi andalan dalam memahami masalah yang di hadapi sungai Ciliwung akibat faktor alam.

Kedua, masalah dari faktor alam ialah intensitas curah hujan yang terjadi di Jakarta. Biasanya pada bulan Januari dan Februari Jakarta mengalami kenaikan intensitas curah hujan yang sangat signifikan. Pasalnya, pada bulan tersebut puncak musim penghujan terjadi. Dari tahun ketahun curah hujan di Jakarta pada kedua bulan tersebut memang mengalami kecenderungan meningkat. Kondisi tersebut jelas tidak menguntungkan Jakarta karena berada di dataran rendah yang menyebabkan rentan terhadap banjir tahunan. Intensitas curah hujan memang tidak berhubungan langsung terhadap kerusakan Sungai Ciliwung. Pasalnya, kerusakan akibat faktor ini terjadi jika kondisi cuaca sangat buruk, seperti curuh hujan yang sangat tinggi. Dengan cuaca buruk menandakan hujan akan sering terjadi dengan berbagai macam intensitasnya. Intensitas hujan yang relatif tinggi akan mendorong aliran air yang sangat kencang. Kecepatan air yang tinggi dengan volume air yang besar inilah yang bisa merusak sekaligus membahayakan. Pada kecepatan air yang kencang dapat membuat tanggul jebol, rusaknya sejumlah bantaran kali, dan pengikisan akan batuan semakin sering terjadi. Seiring berjalannya waktu bencana banjir yang disertai arus yang cukup kencang bisa saja terjadi di Jakarta.

Permasalahan yang menghampiri Sungai Ciliwung bukan hal yang baru. Pasalnya, kerusakan yang kian meningkat dari tahun ketahun seolah menjadi bukti kerusakan urat nadi Jakarta. Banjir yang merendam Jakarta merupakan bukti kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya memelihara kebersihan sungai. Padahal sungai menjadi salah satu pengendali banjir yang terbilang memiliki peran yang sangat besar.

Pengerukan sampah dan penertiban rumah-rumah disepanjang bantaran sungai sudah dilakukan oleh aparat pemerintahan. Namun, apapun usaha yang kita lakukan tidak akan berhasil jika kita masih suka membuang apapun kedalamnya. Ciliwung tidak akan pernah bersih sampai kapanpun. Mengembalikan Ciliwung seperti masa keemasanya dulu adalah hal yang mustahil, Ciliwung sudah menghitam dan tidak akan mungkin bisa kembali jernih, apalagi bisa meminum airnya, tetapi minimal kita bisa menjaganya agar tidak semakin parah. Sekarang saja kondisinya sudah seperti itu apalagi nanti.

Keberadaan Sungai Ciliwung yang kian penting mendesak pemda dan masyarakat untuk proaktif dalam pengananannya. Dimana penanganan dapat dilakukan dengan, yaitu perawatan dan pemeliharaan Sungai Ciliwung. Komponen tersebut merupakan bagian penting dalam melestarikan Sungai Ciliwung yang harus dilakukan secara berkelanjutan dan bersama-sama. Keberhasilan yang bisa dicapai dari pembenahan Sungai Ciliwung akan memberikan dampak positif bagi kehidupan masyarakat Jakarta. Sekecil apapun pasti akan berpengaruh pada kondisi sungai tersebut.

Ada beberapa solusi yang dapat kita lakukan guna menanggulangi keadaan Sungai Ciliwung yang kian memburuk ini. Pertama, penegakan peraturan mengenai kebersihan sungai. Saat ini peraturan mengenai kebersihan sungai telah ada, tetapi penerapannya yang kurang. Penerapan ini membutuhkan ketegasan dari pemda dalam menerapkan peraturan tersebut. Ketegasan pemda dalam menindak pelanggaran terhadap sungai harus bersifat proaktif dan menyeluruh. Baik yang menyangkut perorangan maupun perusahaan yang ada di Jakarta. Pelanggaran yang biasanya menyangkut individu seperti membuang sampah ke sungai, bangunan liar di bantaran sungai, dan membuang limbah rumah tangga ke sungai. Sedangkan, pelanggaran yang menyangkut perusahaan menyangkut pencemaran air sungai terutama dibagian hilir. Kenakalan yang biasa dilakukan perusahaan ialah membuang limbah berbahaya ke sungai. Hal itu jelas merugikan karena dapat merusak ekosistem yang ada di sungai. Untuk itu, ketegasan pemda dalam menindak setiap pelanggaran akan ikut menentukan kelestarian Sungai Ciliwung.

Kedua, penggerakan program pemeliharaan sungai secara berkala menjadi langkah selanjutnya dalam perawatan dan pemeliharaan Sungai Ciliwung. Hal ini dapat dilakukan dengan menggalakan prokasih (program kali bersih) yang meliputi, pengerukan dan pengangkutan sampah dari sungai. Selain itu, pemeriksaan terhadap kesiapan dan kesehatan dari tanggul dan pintu air menjadi poin penting dalam penggalakan program pemeliharaan sungai.

Ketiga, relokasi permukiman kumuh di sekitar bantaran sungai. Pasalnya, dari tahun ke tahun permukiman kumuh di bantaran Sungai Ciliwung kian meningkat dan permukiman kumuh ini mendorong terjadinya penyempitan badan sungai yang bisa menyebabkan daya tampung sungai menjadi lebih kecil. Dalam melakukan relokasi pemda D.K.I. Jakarta harus melakukan pendekatan personal terhadap warga bantaran sungai. Mulai dari biaya ganti rugi hingga mencarikan tempat tinggal baru harus dilakukan pemda dengan pola yang halus. Jangan sampai ada tindak kekerasan karena hanya akan menambah permasalahan baru.

Keempat, pemeriksaan komponen sungai yang harus dilakukan secara berkala. Beberapa komponen yang perlu mendapat perhatian, seperti pemeliharaan tanggul, pintu air dan hal-hal penunjang lainnya. Keberadaan fasilitas yang menunjang bagi sungai ikut menentukan kemampuan dan daya tampungnya. Untuk itu, kesehatan dari komponen yang penunjang juga ikut menentukan kesehatan Sungai. Ciliwung dengan panjang sekitar 60 kilometer memiliki banyak komponen penunjangnya. Oleh karena itu, kerusakan pada salah satu penunjang saja bisa berakibat fatal.

Kelima, memasang slogan-slogan persuasif untuk meningkatkan kepedulian warga Jakarta terhadap kebersihan Sungai Ciliwung. Pelestarian sungai dengan cara ini diharapkan bisa menggugah psikologis warga untuk peduli terhadap kesehatan sungai.

Keenam, tidak membuang sampah sembarangan. Klise memang, tapi buktinya masih banyak yang membuang sampah sembarangan secara sadar maupun tidak sadar, meskipun hanya sampah sebungkus permen yang tidak banyak artinya. Nyatanya, dari satu bungkus sampah itu akan sangat berarti, meskipun kita tidak membuangnya secara langsung kedalam Ciliwung. Bila kita terus membuat satu bungkus, nantinya akan terkumpul jutaan ton sampah bungkus permen. Dari jutaan ton itu akan bertambah terus, bisa jadi tidak hanya Ciliwung yang tertutup sampah, tetapi juga Jakarta. Kalau diperhatikan, kita bisa mengurangi sampah permen sampai jutaan ton dan ikut andil dalam menyelamatkan bumi meskipun kecil, tidak terlihat, dan sepele. Tidak harus menunggu orang lain, tidak harus menunggu pemerintah. Tapi kita sendiri yang harus memulai, mulai dari diri sendiri. Untuk kita, untuk Jakarta, untuk anak cucu kita, bahkan untuk dunia

Melalui pemaparan yang telah dilakukan diharapkan ada upaya dari pemerintah daerah dan masyarakat untuk terlibat dalam pelestarian sungai Ciliwung.

Mulailah dengan hal kecil terlebih dahulu dengan tidak membuang sampah ke sungai dan terlibat aktif dalam setiap kegiatan seperti prokasih. Dengan kesadaran kecil dari masyarakat diharapkan akan timbul kesadaran besar yang mampu menggerakkan kepedulian yang lebih besar terhadap sungai terutama bagi Sungai Ciliwung. Kebersamaan dalam menjaga kelestarian Sungai Ciliwung merupakan upaya untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik di masa sekarang dan yang akan datang.

31/10/2014

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s