Api itu Berkobar, Membakar, dan Tak Pernah Padam

“Kamu yang dulu buat api itu di dalam hatiku dan itu aku terus terbakar hingga saat ini. Semua karena kamu, Ras,” kata Alif pada Laras di film 3 : Alif, Lam, Mim.

Sekilas, ucapan itu hanyalah romansa yang diberikan film ini kepada para penontonnya. Namun, bagi saya, ucapan itu bermakna dalam sekali, apalagi setelah kejadian yang saya lalui kemarin (23/03/2016).

Ada sebuah forum yang dilakukan di kampus saya tercinta, Universitas Padjadjaran. Forum ini mengkaji tentang kajian Timur Tengah. Temanya “Relasi Geopolitik Timur Tengah dan Pentingnya Hubbul Wathon Minal Iman”. Menurut saya, tema ini menarik karena ini menyentil sisi nasionalisme setiap orang pastinya karena ada kata-kata “Hubbul Wathon Minal Iman” yang berarti “Cinta Tanah Air adalah Sebagian Daripada Iman”.

Memasuki forum ini, saya sudah merasakan hawa yang tidak mengenakkan dari arah diskusi ini yang akan dibawa ke arah mana. Akan tetapi, saya dan beberapa teman yang kala itu turut datang pun optimis dan berniat untuk meluruskan apa yang salah dari forum diskusi ini dengan cara sebaik mungkin dan tanpa kekerasan ataupun debat kusir.

Forum dimulai dan pemaparan dari sang pemateri pun dijabarkan panjang kali lebar. Sekitar satu jam ia berbicara tentang pandangannya mengenai permasalahan di Timur Tengah. Saya membuat beberapa poinnya dan analisis berdasarkan pandangan saya.

Pemateri mengatakan hal yang benar dengan mengatakan bahwa setelah Perang Dunia kedua berakhir, bibit kecintaan pada kelompok masing-masing (ashabiyah) mulai muncul dan membesar. Pemateri juga menjelaskan, ajaran cinta tanah air adalah ajaran orang-orang Eropa, yakni Inggris. Sekilas, saya tak merasa ada kejanggalan pada awal-awal forum ini. Semuanya terlihat baik-baik saja. Namun, semua berubah ketika ia mulai membicarakan tentang konflik Timur Tengah.

Pemateri menyatakan bahwa masalah Timur Tengah bukanlah masalah tentang Islam dan  penerapan aturan Islam. Perkataannya seketika menyentil saya ketika saya hendak menguap entah keberapa kalinya karena bosan. Pemateri melanjutkan dengan fakta-fakta bahwa di sana (Timur Tengah) terdapat banyak muslim yang tinggal, tetapi toh tidak menghentikan adanya pertempuran yang berlanjut hingga saat ini.

“Hal ini tidak ada kaitannya dengan mayoritasnya Islam di sana, tetapi ini berkaitan dengan kemanusiaan. Muslim di sana justru saling membunuh Muslim lainnya. Dengan banyaknya muslim di Timur Tengah justru tidak membuat pertikaian berakhir. Kemanusiaan justru semakin menghilang,” begitu kira-kira kata sang pemateri.

Dapatkah kalian tangkap maksudnya ? Ia seakan-akan secara implisit mengatakan bahwa Islam tak mengajarkan kemanusiaan dan justru ajaran Islam tak mengajarkan humanity itu sendiri. Apakah kau sudah merasakan api kemarahan dari dalam dirimu ? Karena saat materinya tiba di pembahasan ini, aku sendiri sudah tak dapat duduk dengan tenang.

Pemateri ini melanjutkan bahasannya dengan mengatakan bahwa kepemimpinan yang ada di Timur Tengah saat ini juga dipimpin oleh Muslim, tetapi ia melanjutkan perkataannya persis seperti kata-katanya di atas. Ia menyatakan, hal ini tidak menutupi adanya perpecahan dan justru perpecahan ini semakin parah. Ia menyatakan hal ini dengan contoh fakta Libya dan Mesir yang hancur karena pemimpin-pemimpinnya yang Muslim. Ia pun dengan berani menyatakan bahwa Muslim tak seharusnya berpegang kepemimpinan dengan Islam karena Islam tidak mengajarkan kepemimpinan.

Sampai di titik ini apakah Anda merasakan kobaran dalam hati Anda semakin membesar ? Karena saya merasakannya. Buku-buku jari saya memutih dan berubah menjadi dingin seketika, padahal saya tak mengepalkan tangan sama sekali. Gemuruh dalam dada saya pun bertabuh kencang dengan ritme kencang seakan sedang berlari, tapi dalam hal ini saya hanya sedang duduk di masjid kampus saya.

Terakhir, dia menyatakan bahwa tidak ada yang namanya Negara Islam dan Rasul pun tidak mengajarkannya. Ia mengatakan, hukum Islam hanya berfungsi pada sesama Muslim saja dan tidak pada orang-orang non-Muslim. Untuk hukum bagi non-Muslim dikembalikan kepada hukum di agama masing-masing mengikuti periode di Makkah ketika terjadi pencurian oleh Yahudi dan Rasul mengembalikan hukumnya sesuai hukum yang berlaku di Yahudi.

Pada titik ini, saya sungguh ingin tertawa sekaligus menangis mendengar pernyataannya, namun tak saya lakukan. Api dalam hatiku berkobar dan tak ada satupun yang terpadamkan hingga forum ini berakhir, bahkan ketika mengetik tulisan ini pun tangan saya kembali dingin, memutih (pucat), dan jantung berdebar persis ketika saya mendengar pernyataan ini saat di Masjid Raya Unpad.

Saudara-saudara sekalian, para pembaca yang saya hormati, tahukah kalian ? sesungguhnya obrolan pemateri ini kurang piknik sekali dan kekurangan literatur. Beberapa pernyataannya malah seakan melantur. Pandai sekali ia bersilat lidah. Andaikata semua orang di ruangan itu mengkritisi apa yang ia ucapkan, sesungguhnya obrolannya menjatuhkan Islam dan seharusnya semua Muslim justru marah dengan pernyataan-pernyataan dia yang menjelek-jelekkan Islam. Saya akan membahasnya satu persatu.

Pertama, ia mengatakan secara implisit bahwa Islam justru membuat orang kehilangan kemanusiaannya. Iyakah ? Pemateri ini juga seorang Muslim. Bagaimana mungkin ia tidak pernah diajarkan tentang kemanusiaan seumur hidupnya selama ia Muslim ? Apakah ia tak pernah diajarkan tolong-menolong (ta’awun) ? Mengetok pintu saat memasuki rumah untuk menghormati pemilik rumah dan menyapa serta memberi salam pada sesama manusia pun adalah ajaran Islam tentang kemanusiaan. Bagaimana mungkin ia berkata bahwa Islam yang membuat kesalahan karena mayoritasnya dan tak mengajarkan kemanusiaan ? Sungguh logika yang aneh.

Kemudian, pemateri juga menyatakan bahwa Islam tidak mengajarkan kepemimpinan. Bagaimana bisa ? Apakah ia tak melihat, Rasul melaksanakan 13 perang semasa hidupnya dan beliau sebagai pemimpin di garda terdepannya. Bukankah itu sebuah kepemimpinan ? Bukankah yang dicontohkan oleh Rasul adalah cara kepemimpinan ? Sekalipun pemateri memberikan klarifikasi atas kesalahannya, tetap saja hal ini tidak dapat ditolerir.

Ia mengaku memelajari Islam dan sebagai seorang mukmin, tetapi ia sendiri menunjukkan pada khalayaknya seakan-akan Islam tidak sempurna, tidak lengkap. Padahal dalam QS. Al-Maidah:3 disampaikan, “Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu, dan telah Kucukupkan nikmatKu padamu, dan Kuridhoi Islam sebagai agamamu.” Hal ini menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang sempurna. Menurut kbbi.web.id, sempurna adalah utuh, lengkap, komplet, dan terbaik. Maka, dapat disimpulkan, Islam adalah agama yang sempurna yang memiliki seperangkat peraturan yang mengatur di dalamnya. Hal ini berarti bahwa Islam tidak hanya mengatur urusan individu saja, tetapi untuk urusan bermasyarakat, bahkan hingga tatanan negara pun Islam memiliki aturan yang mengaturnya.

Ia mengatakan bahwa Islam tidak pernah mengatur higga ke tatanan negara dan tidak ada yang namanya negara Islam. Apakah ia tidak tahu bahwa dalam Islam diatur mengenai politik Islam ? ekonomi Islam ? pengaturan sosial dalam Islam ? Tidakkah ia tahu ? Islam memiliki semua itu. Bahkan, Islam mengatur hingga kaki mana yang digunakan saat masuk ke kamar mandi. Tidakkah itu menunjukkan betapa sempurnanya Islam ? Layaknya sebuah negara ini yang menerapkan demokrasi dengan politik kepartaian liberalnya, ekonomi neoliberalnya, dan sosialnya yang sekuler, ia memiliki nama, yakni sistem Demokrasi. Maka, tak pernahkah kita bertanya, jika Islam sempurna, masa Islam tidak memiliki nama sistem dari semua aturannya ? Tak pernahkah kita menanyakannya dalam hati ? Karena jika itu saya, saya sudah menanyakannya sejak saya diajak diskusi kajian Islam.

Islam memiliki nama atas sistem aturannya, layaknya demokrasi. Namanya Khilafah. Khilafah adalah kepemimpinan tunggal atas seluruh kaum Muslim dunia yang menerapkan kepemimpinannya dengan hukum Islam. Khilafah pun disebutkan oleh pemateri ketika menceritakan keKhilafahan Turki Ustmani dan pemateri pun menggunakan kata Khilafah saat menyebutkannya. Maka, tidak mungkin jika negara Islam itu realitasnya tidak ada. Jika dikatakan bahwa realitasnya saat ini tidak ada negara Islam, maka saya setuju. Namun, jika dikatakan bahwa bukti negara Islam itu tidak ada, maka saya tidak setuju, alasannya seperti yang sudah saya paparkan di atas. Untuk kedua kalinya, pemateri “menjilat ludahnya sendiri” lagi setelah pernyataannya yang pertama. Pemateri ternyata kurang piknik literatur hmm…

Terakhir, pemateri mengatakan, hukum Islam hanya berlaku bagi Muslim saja. Sebelumnya, pemateri mengatakan, Islam adalah agama yang rahmatan ‘lil alamin, maka harusnya Islam menghargai sesama manusia dengan dasar toleransi dan tidak melanggar batas-batas kemanusiaan.

Jika kita cermat, maka seharusnya hukum Islam pun bisa diterapkan untuk seluruh orang, ya kan ? Logikanya jika Allah menurunkan Islam hanya cocok untuk Muslim, maka judulnya adalah Islam adalah agama yang rahmatan ‘lil muslimin, bukan rahmatan ‘lil alamin. Akan tetapi, Allah menyatakan bahwa Islam adalah rahmatan ‘lil alamin, rahmat bagi seluruh alam, bagi seluruh dunia. Maka, tidak mungkin ada yang namanya hukum Islam tidak cocok dengan agama manapun.

Buktinya, selama masa keKhilafahan 1300 tahun lebih lamanya, negara Islam berdiri tegak dengan adanya tiga agama besar yang hidup di dalamnya, yakni Islam, Nasrani, dan Yahudi. Ketiga penganut ini pun hidup berdampingan tanpa ada masalah berarti.

Diceritakan pula saat masa Rasul, ada seorang Muslimah yang dilecehkan dengan disingkapkan gamisnya (baca: jilbabnya) secara sengaja oleh Bani Yahudi Qainuqa. Rasul pun marah dengan adanya pelecehan ini. Beliau segera mengirimkan pasukan tentara Muslim ke daerah tersebut dan melakukan pengepungan kepada daerah-daerah Bani Yahudi Qainuqa. Dalam versi lainnya, dikatakan seorang wanita yang dipermainkan cadarnya dan dilecehkan saat ia pergi ke pasar. Tahukah Anda ? Ini hanya masalah aurat dan hanya seorang perempuan saja yang bermasalah, tetapi Islam tak pernah menolerir pelanggaran, baik itu Muslim, maupun non-Muslim. Bahkan, sepasukan tentara Muslim yang dikirimkan. Islam tak pernah main-main jika menyangkut tentang hukum. Ia selalu tegas dan tak pandang bulu. Hal ini membuktikan bahwa hukum Islam cocok untuk seluruh agama, bukan hanya Islam.

Hukum Islam mengatur dalam bermuamalah, dalam bermasyarakat. Untuk urusan agama, negara Islam mengembalikan hal ini kepada individu masing-masing mengikuti QS. Al-Kafirun:6 yang menyatakan, “Untukmu agamamu, dan untukku agamaku.”

Akhir kata, semua pernyataan pemateri banyak yang salah kaprah, bahkan salah pengartian. Hal ini rawan bagi Muslim di sekitar kita yang sekiranya masih awam akan hal ini dan kurang kritis menilai situasi Islam saat ini. Maka, sudah selayaknya ini menjadi PR bagi pendakwah Islam dimanapun kalian berada untuk membantah ucapan-ucapan dan anggapan salah seperti yang dilakukan pemateri tadi.

Dalam hadits, Nabi SAW. menyebutkan, setelah ada kebaikan, lalu ada kaum yang menjalani selain Sunnah Nabi dan mengambil selain petunjuknya. Hudzaifah ra. pun bertanya :

“Apakah setelah kebaikan ini ada kejelekan lagi?”

Beliau menjawab:

“Ya, para da’i yang berada di pintu-pintu jahannam. Barangsiapa menyambut mereka, akan dilemparkan ke dalamnya.” Hudzaifah berkata: “Wahai Rasulullah, berikan sifatnya kepada kami.”

Jawabnya: “Ya, sebuah kaum dari kulit kita dan berbicara dengan bahasa kita…” (Shahih, HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Tahukah kita ? Musuh-musuh kita tidak hanya paham sistem yang salah, tetapi juga harus membenarkan pemahaman orang-orang yang salah, macam pemateri ini dan orang-orang yang telah mendengarkannya dan malah percaya mentah-mentah dengan omongannya.

Semangatlah, saudaraku. Tak ada yang tak mungkin. Jika memang ada kemauan, insya Allah kita mampu melaksanakannya. Memahamkan orang itu susah, tak semudah membalikkan telapak tangan memang. Namun, percayalah, semua usaha kita tak ada yang sia-sia karena Allah selalu menilai proses kita, tak hanya melihatnya sebelah mata pada hasilnya.

Siapa saja yang menyeru manusia pada petunjuk (Islam), dia pasti akan mendapatkan pahala sebagaimana pahala yang diperoleh orang yang mengikuti petunjuk itu tanpa mengurangi sedikitpun pahalanya. (HR Ahmad, Muslim, Abu Dawud, At Tirmidzi, an Nasa’I dan Ibn Majah)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s