Ketika Pandora Panama Terbuka

Baru – baru ini dunia digegerkan dengan 11,5 juta data dokumen firma hukum Mossack Fonseca yang bocor. Data ini berisi nama-nama pengusaha, politikus, hingga buron sebuah negara yang menjadi klien perusahaan firma hukum Mossack Fonseca guna menghindari beban pajak tinggi, bahkan bebas pajak, yang ada di negaranya masing-masing. Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz, Perdana Menteri Inggris David Cameron, dan Presiden Rusia Vladimir Putin adalah sebagian nama tokoh besar yang tercantum dalam kotak pandora sebesar 2,6 terabite data ini.

Tidak hanya tokoh-tokoh besar luar negeri, beberapa warga negara Indonesia terlibat di dalamnya. Setidaknya ada 899 orang, yang termasuk politisi dan pengusaha, tercantum dalam dokumen yang dijuluki “The Panama Papers” ini. Deretan nama yang terlibat di antaranya calon gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno, Politikus Golkar Airlangga Hartanto, dan buron pelarian kasus Bank Bali Joko Soegiarto Tjandra.

Panama Paper adalah daftar nama klien Mossack Fonseca yang bocor dan diinvestigasi oleh jejaring wartawan lintas negara International Consortium of Investigative Journalists (ICIJ) selama setahun oleh ratusan jurnalis dari 76 negara. ‘Kotak Pandora Panama’ yang akhirnya terbuka itu memuat berbagai informasi aliran fulus gelap yang terjadi sejak 1977 sampai dengan awal 2015.

Realitas ini mengejutkan dunia. Mereka yang menghindari pajak tinggi, bahkan bebas pajak di negara-negara surga pajak, notabene adalah orang kaya elit. Direktur Eksekutif Center for Indonesia Taxation Analysis (CITA) Yustinus Prastowo mengatakan, politisi, pejabat, dan pengusaha menggunakan jasa firma Mossack Fonseca untuk menyamarkan beneficial owners atau menyamarkan penerima manfaatnya dan pendirinya serta untuk kepentingan aksi korporasi, misalnya memudahkan mereka dalam administrasi, kerahasiaan, dan mengantisipasi kebangkrutan.

Di sisi lain dengan alasan kekurangan dana dan ekonomi negara yang sulit karena minimnya jumlah pajak yang masuk, orang-orang penting (pemerintah) Indonesia menerapkan peraturan “penghematan” di segala bidang dengan menaikkan harga-harga, utamanya harga BBM yang semakin diperkecil besaran subsidinya. Hal ini dilakukan untuk membuat anggaran pengeluaran negara bisa ditekan dan negara tidak mengalami defisit. Si miskin kembali diperas karena desakan para ‘kakap besar’ mengaku tidak punya uang.

Ketidakberimbangan ini membawa kita pada satu kesimpulan bagaimana para pemilik modal memainkan perannya untuk memeras rakyat dengan dalih kekurangan dana dan pemerintah pun mengiyakan tanpa pikir panjang. Hal ini menunjukkan bagaimana penerapan ekonomi kapitalis benar-benar telah bercokol dan membebani rakyat, tak hanya masyarakat bawah, tetapi juga masyarakat yang notabene elit dan mampu.

Hal ini sangat berbeda dengan penerapan ekonomi Islam yang tidak akan membiarkan harta kekayaan hanya beredar di antara mereka-mereka yang kaya (pemilik modal). Ekonomi Islam tidak akan pula menerapkan pemungutan pajak yang memberatkan rakyat layaknya sekarang, tetapi akan menggantinya dengan retribusi berdasarkan kekayaan dan tanah milik individu. Ekonomi Islam pun akan menarik seluruh dana yang telah ditanamkan di perusahaan luar negeri dan sumber daya alam yang diberikan ke asing, lalu menggunakannya untuk pembangunan ekonomi riil dalam negeri, tidak seperti realitas yang terjadi saat ini.

Tulisan ini ditulis 11/04/2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s