Arti Ikatan Bernama Keluarga

Harta yang paling berharga adalah keluarga, mungkin ungkapan yang pas untuk keluarga baruku di Jurnalistik angkatan 2014 ini. Aku tak menyangka akan mengatakan ini, tetapi setelah kejadian tahun lalu pada 21 Desember, aku benar-benar menganggap mereka sebagai keluarga.

Kala itu, Senin, 21 Desember 2015 itu adalah hari terakhir Ujian Akhir Semester (UAS) di Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran. Selesai UAS, aku dan teman-temanku menyempatkan berfoto terakhir kalinya untuk semester tiga ini. Setelah berfoto beberapa kali, kami membubarkan diri. Satu persatu dari kami kembali ke kosan masing-masing, tapi tak jarang juga yang masih melakukan rapat Orientasi Jurnalistik (OJ) terlebih dahulu seperti dua sahabatku, El dan Arka. Maka, aku pun menunggu mereka. Mereka berjanji untuk makan siang terakhir bersama di semester ini sebelum aku pulang.

Ya, aku harus pulang sore hari itu juga untuk mengejar penerbangan ke Surabaya, kampung halamanku, untuk membantu persiapan resepsi pernikahan kakak pertamaku.

Jika orang berkata, menunggu itu menyebalkan, maka itu adalah sebuah kebenaran. Aku sudah bosan menunggu mereka. Mereka berkata, rapatnya takkan lama, tetapi yang terjadi adalah kebalikannya. Beberapa kali kutengok ponselku untuk melihat waktu yang semakin berlalu. Aku harus mengejar penerbangan ke bandara di Jakarta dan perjalanan ke Jakarta dari Cileunyi tak pernah tak macet. Kekecewaanku memuncak. Aku pun memutuskan untuk pulang bersama Vina, teman sekelasku, tanpa mengetik pesan satupun pada mereka berdua.

Di tengah perjalanan, El meneleponku via media sosial line dan menanyakan keberadaanku. Aku menjawabnya ketus dan bilang, aku pulang ke kosan untuk mengemasi barang-barangku dan hendak mengejar bis untuk kepulanganku. Dia pun bersabar padaku dan bertanya, “Oke, tapi kita jadi makan bareng kan ?”. Aku yang sudah terlanjur kecewa hanya diam dan terus berjalan mengarah ke kosanku sambil sesekali menendang batu di sekitarku. El mengulangi pertanyaannya padaku dengan nada yang lebih lembut dan aku pun luluh. Aku tak suka melihat orang lain harus memohon padaku, maka aku mengatakan iya padanya. El menjerit girang dan langsung menentukan tempat kami akan bertemu.

Setibanya di kosan, aku langsung mengemasi barang-barang yang sekiranya akan dibutuhkan di rumah. Beberapa oleh-oleh pun tak lupa ku bawa di tanganku. Satu ransel dan satu tas kresek oleh-oleh pun telah kubawa dan kulangkahkan kakiku menuju Ranjang 69, tempat bertemu kami.

Ternyata, makan siang itu tidak hanya bertiga, tetapi ada Romi dan Vina, sahabat dekat baru kami bertiga. Kami pun segera memesan makanan dan memakannya. Selesai makan, kami tak lupa berfoto bersama untuk terakhir kalinya di semester tiga ini.

Selepas makan, aku segera berangkat menaiki angkutan kota kea rah CIleunyi dan lanjut menaiki bis Prima Jasa ke Jakarta setelah menunggu sekitar satu jam. Aku melihat jam di ponselku yang telah menunjukkan pukul 13.34. Semoga segera sampai di Jakarta, doaku dalam hati. Tak lama setelah bis berjalan, aku pun segera pulas tertidur.

Aku terbangun dan menengok ponselku. Aku terlonjak dari tempat dudukku seketika ketika melihat jam di ponselku menunjukkan pukul 16.35 dan belum terlihat jalanan Jakarta sedikitpun. Kanan dan kiri jalan masih terlihat jalan tol sejauh mata memandang. Waktu itu adalah satu jam menuju keberangkatan pesawatku ke Surabaya dan aku masih berada di tol. Otakku langsung bermain liar dan berkhayal memikirkan pilihan-pilihan alternatif yang mungkin terjadi mulai pesawatku yang akan menungguku meskipun aku adalah penumpang terakhir hingga pesawat yang tertunda karena suatu hal, seperti hujan.

Aku terus memandang ke arah kejauhan dan berharap semoga lima belas menit ke depan sudah berada di Jakarta. Doaku terkabul. Lima belas menit kemudian bisku telah tiba di Jakarta, tetapi masalah belum berakhir. Seperti biasanya, jalanan Jakarta telah dipenuhi kendaraan-kendaraan yang hendak pulang dari kantor dan membuat kemacetan di jalanan. Aku berpikir untuk memesan Go-Jek, ojek dalam jaringan yang beroperasi setiap saat, tetapi tidak jadi kupesan. Saat bisku tiba di tempat pangkalan bis Prima Jasa di Cililitan, aku segera bergegas ke luar bis dan menanyakan pada orang terdekat di sekitarku tentang arah ke bandara Cikarang. Saat itu jam di ponselku telah menunjukkan pukul 17.03.

Setelah menemukan angkutan kota (angkot) yang diberitahu oleh orang di pangkalan Prima Jasa, aku pun duduk dan melemaskan otot tubuhku. Aku memejamkan mata sejenak dan tak melihat sekitar. Ketika aku terbangun ternyata lima belas menit telah berlalu dan aku terkejut karena belum tiba di tempat tujuanku. Aku bertanya pada sopir angkot tersebut dan terkejut mendengar jawabannya.

“Aduh neng, salah naik. Harusnya yang kea rah seberang sana daritadi. Ini saya masih muter rute lagi.”

Aku melongo mendengar jawabannya. Sepuluh menit berlalu dan aku semakin kebingungan. Aku sudah pasti tertinggal penerbanganku dan aku tak mungkin pulang ke Surabaya. Tiket pada hari-hari menjelang Natal dan Tahun Baru sudah meningkat hingga harga Rp1juta dan tak mungkin aku sanggup membelinya. Ketika air mata hendak turun dari mataku, ponselku berdering. Ayahku menelepon dan bertanya apakah aku sudah akan berangkat ke pesawat. Aku menceritakan keseluruhan ceritaku kepada ayahku dan aku sudah bersiap untuk kemungkinan terburuk, yakni kemarahan ayahku padaku. Akan tetapi, hal itu tak terjadi. Ayahku tertawa. Iya menertawakan kekonyolanku. Iya mengatakan akan membantuku mencarikan tiket dari bandara Soekarno-Hatta ke Surabaya kemudian menutup teleponku.

Aku merasa bersalah. Aku selalu merepotkan orang-orang di sekitarku dan membuat mereka susah. Aku pun memutuskan untuk bercerita kepada El dan Arka melalui ruang obrolan kami di media sosial line. Aku menceritakan semuanya kepada mereka dan mereka merasa bersalah karena telah membuatku tertinggal pesawat. Aku hanya berkata tak apa karena memang hal itu bukanlah kesalahan mereka sepenuhnya. Aku pun tidak baik dalam mengatur waktu. Ketika aku berpikir tentang rasa bersalahku, aku menyadari ada sesuatu yang hilang dari tanganku. Ternyata, oleh-olehku tidak ada dan setelah berpikir ulang tentang tindakank, aku sadar aku telah meninggalkannya di bis Prima Jasa tadi dan tak mungkin aku kembali lagi ke sana. Lagi-lagi keteledoranku berbuah sial lagi.

Ponselku berdering lagi dan aku segera mengangkatnya. Ayahku lagi. Ia mengatakan, ia mendapatkan sisa tiket penerbangan ke Surabaya mala mini pukul 21.20. Aku tak percaya, aku telah mengecek sisa tiket penerbangan dan tidak ada satupun, tetapi ayahku berhasil mengusahakannya. Ia berkata padaku untuk segera berganti bis khusus yang menuju arah bandara Soekarno-Hatta saja agar tidak salah naik angkot lagi. Setelah ayahku berbicara, aku menceritakan padanya perihal oleh-olehku yang tertinggal di bis Prima Jasa. Lagi-lagi, ayahku tertawa. Aku tak mengerti, tetapi aku tetap meminta maaf pada ayah karena merepotkannya dan tak membawa oleh-oleh apapun. Ia menenangkanku dan memintaku untuk fokus saja pada perjalananku. Tak lama kemudian, telepon kami pun berakhir.

Aku menanyakan tempat bis khusus yang dikatakan ayahku kepada sopir angkot dan ketika angkotku tiba di tempat tujuanku, aku bertanya padanya berapa ongkos yang harus kubaya, ia menjawab, “Tujuh ribu aja, neng.” Aku bingung, harga yang terlalu murah untukku yang nyasar dan telah memutari beberapa kali rute angkot tersebut. Mungkin bapaknya kasihan padaku yang linglung dan tersesat di Jakarta dan ketinggalan pesawat ini, begitu pikirku. Aku segera membayarkan ongkos angkotku dan tak lupa mengucapkan terima kasih dan memberikan senyum terbaikku pada sopir angkot baik hati tersebut.

Setelah itu, aku bergegas berlari ke tempat pangkalan bis khusus tersebut. Aku beruntung sekali karena tiba di tempat itu tepat ketika bis akan berangkat. Bis tersebut masih menyisakan beberapa tempat duduk kosong dan aku pun segera membayar tiketku dan duduk di tempatku. Akhirnya, aku bisa duduk dengan tenang dan bisa pulang sesegera mungkin, piker dalam benakku.

Aku menyempatkan untuk menengok ke ponselku dan ternyata ponselku telah menerima banyak pesan dari teman-teman seangkatanku di Jurnalistik tentang kekhawatirannya padaku. Ternyata El menceritakan keluh kesahku pada teman seangkatan dan meminta mereka untuk mendoakanku agar tidak ada kejadian buruk lagi yang menimpaku. Banyak yang berempati padaku dan bahkan mengirim pesan personal untuk menanyakan keadaanku. Rata-rata dari mereka khawatir apabila aku akan tidur di bandara dan tak mendapatkan tiket pulang ke Surabaya. Ketua angkatan Jurnalistik 2014, Kankan, pun juga menanyakan perihal tersebut padaku. Aku pun mengetikkan sebuah pesan yang cukup panjang untuk menenangkan semua teman-temanku dan menjelaskan keadaanku sekarang. Banyak dari mereka yang mengatakan kelegaan mereka karena keadaanku yang sudah dapat tiket pulang lagi ke Surabaya. Namun, banyak pula dari mereka yang juga seperti ayahku, yakni menertawakan kekonyolanku dan mengatakan, seandainya aku ingin membuat buku kumpulan cerita pendek berjudul “Hilang di Jakarta”, maka buku itu akan laku keras karena pengalamanku yang terlalu konyol. Aku hanya tertawa menanggapi teman-temanku.

Aku merasa bahwa saat mereka mulai ramai di grup, maka kehadiran mereka benar-benar seperti keluarga. Ada yang menasehati dan bertingkah dewasa, ada yang jahil dan suka bercanda, ada yang dewasa dan bernaluri kebapakan, dan lembut keibuan. Tapi, lebih dari itu, aku baru menyadari kehadiran mereka yang benar-benar seperti keluarga baru bagiku.

Di akhir percakapan kami, mereka semua berpesan padaku agar aku tak ketiduran ketika menunggu pesawatku datang dan tak ketinggalan pesawat lagi. Kankan dan El memastikan aku tak ketiduran selama satu setengah jam ke depan karena mereka yang telah menghafalku yang suka sekali tertidur jika merasa bosan.

Satu setengah jam berlalu dan aku menaiki pesawatku. Aku mengabarkan pada teman-teman seangkatanku, termasuk El dan Kankan, bahwa aku telah berada di pesawat menuju Surabaya. Mereka semua mendoakan semoga perjalananku lancar dan tak ada hal yang berarti lagi sepanjang perjalananku.

Aku tak pernah percaya bahwa orang yang berada di luar ikatan darah dapat dianggap sebagai keluarga dan bersikap seperti keluarga, tetapi anak-anak Jurnalistik 2014 berbeda. Mereka benar-benar menganggap satu sama lain layaknya keluarga, bahkan tak segan untuk membantu hingga ke finansial jika mereka mampu. Mereka dapat menjadi apapun. Mereka dapat secerewet ibuku, sesabar ayahku, protektif seperti abangku, dan mereka pun dapat sejahil adik-adikku dan aku bangga menjadi bagian dari keluarga Jurnalistik ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s