Ketika Praja Memakai Pakaian Adat

Lantunan musik membahana di lapangan samping gedung Balairung Rudini pada siang hari itu. Panas matahari yang menghangatkan tersebut menyapa acara Parade Budaya Nusantara yang berlangsung pada pukul 12.00 WIB. Suara musik dari band IPDN dan celotehan pengunjung yang berdatangan dari praja IPDN sendiri turut meramaikan acara yang termasuk dalam rangkaian  acara Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) Expo 2016.

Sebelum Parade Budaya Nusantara, acara Parade Masakan Nusantara telah dimulai sejak pukul 10.00 WIB. Acara Parade Masakan Nusantara adalah lomba memasak dari perwakilan kontingen yang ada di IPDN. Maka, ada sekitar 34 provinsi yang memasak 34 makanan khas dari asal masing-masing. Panitia Operasional Memasak Dimas S. Raharjo menyatakan,  pengaturan memasak yang dibuat layaknya acara memasak Master Chef membuat para peserta panik sesaat karena harus berebutan bahan makanan. “Sempat panik tadi saat rebutan bahan makanan, tetapi setelah itu, semuanya berjalan lancar,” ujar praja ini dengan gestur tangannya.

Lomba memasak ini bukannya tanpa pemenang. Untuk membuatnya tampak seperti Master Chef, IPDN Expo juga telah menyiapkan beberapa juri, diantaranya adalah Chef Ajat dari Puri Khatulistiwa, Ahli Gizi Politeknik Kesehatan Bandung Nina Fitriani, dan pengganti Kepala bagian Menza dan Laundry, bagian pengaturan menu makanan di IPDN, Karnazi yang digantikan oleh sekretarisnya,  Yanti. Setelah penjurian dilakukan, para pemenang akan diumumkan pada rangkaian terakhir IPDN Expo, yakni Pemilihan Puteri Nusantara 2016 pada malam harinya.

Memasuki jam siang sekitar pukul 12.00 WIB. Lonceng IPDN berbunyi dan praja muda pun bergegas ke ruang Menza, ruang makan siang bagi praja, kecuali bagi praja yang menjaga stand Parade Budaya Nusantara. Semua aktivitas pun berhenti, kecuali sholat dhuhur dan makan siang. Ketika jam menjukkan pukul 13.00 WIB. Aktivitas Parade Budaya Nusantara tersebut mulai terlihat lagi. Meski langit berubah mendung kala itu, pengunjung-pengunjung yang hadir, baik praja, maupun orang dari luar IPDN yang mulai berdatangan tidak merasa perlu berteduh dan tetap bersemangat mengunjungi ke-34 stand yang dihadirkan oleh para praja sesuai kontingen provinsi masing-masing.

Makanan ringan, makanan berat, souvenir asal daerah, bahkan pamflet pariwisata dan peta tour-guide pun telah dipersiapkan oleh tiap stand yang ada. Tidak hanya untuk dipamerkan, tetapi makanan dan berbagai macamnya tersebut dijual oleh mereka. Hampir seluruh makanan yang ada pun memang niat didatangkan langsung dari daerah asal masing-masing. Daerah Aceh, misalnya. Mereka mendatangkan seluruh makanan ringan dan souvenirnya langsung dari Aceh. Begitu pula dengan daerah lainnya.

Jika makanan kurang menggambarkan keadaan daerah masing-masing, maka dekorasi stand mungkin dapat menggambarkannya. Dekorasi setiap stand yang dibuat sesuai dengan adat masing-masing daerah membuat pengunjung tertarik untuk masuk dan melihat ke sana ke mari. Ada pula mading daerah dari tiap stand yang menjelaskan kebudayaan, makanan, hingga adat yang masih dipegang teguh daerah asal masing. Contohnya, adat kematian Maneneh dari Sulawesi  Tenggara.

Adat kematian Maneneh berasal daerah di Sulawesi Tenggara. Adat ini membolehkan seseorang yang sudah meninggal untuk dibangkitkan kembali. Namun, orang yang sudah dibangkitkan ini tidak dapat berbicara satu patah kata pun, ia hanya bisa mendengar. Ada satu pantangan yang tidak dibolehkan jika seseorang sudah dibangkitkan kembali. Putri stand Sulawesi Tenggara mengatakan, “Kita tidak boleh memanggil namanya sama sekali. Sekali ia dipanggil, ia akan kembali mati dan tidakdapat dibangkitkan kembali.”

Makanan pun tak kalah variasinya. Beberapa makanan adat yang unik adalah tempoyak dari berbagai daerah di Sumatera. Tempoyak adalah makanan khas di beberapa daerah di Sumatera, diantaranya Jambi, Bengkulu, dan Sumatera Selatan. Makanan ini terbuat dari buah durian yang difermentasi selama seminggu kemudian dimasak dengan santan dan daging, ayam, atau bahkan pindang dan teri. Campurannya tergantung dengan selera masing-masing. Namun, yang pasti, kuahnya berasal dari durian.

Untuk menampilkan budaya daerah masing-masing, tidak sedikit para praja yang menggunakan pakaian adat daerahnya. Ada beberapa yang tampak malu-malu menggunakan, tetapi ada pula yang tampak percaya diri dengan pakaian adatnya.

Parade Budaya Nusantara ini tidak hanya sekadar stand, tetapi ada pula penilaian bagi stand terbaik yang akan diumumkan pada malam Pemilihan Putri Nusantara 2016. Maka, setiap praja yang memakai pakaian adat berusaha untuk tampil semaksimal mungkin agar kemenangan dan titel Best Stand bisa mereka dapatkan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s