Teori Komunikasi Mulai Akar hingga Daunnya

Pengertian Teori

Menurut West dan Turner dalam buku Teori Komunikasi dijelaskan, teori adalah sebuah sistem konsep yang abstrak dan hubungan-hubungan konsep tersebut yang membantu kita untuk memahami sebuah fenomena.

Dalam buku Pengantar Teori Komunikasi karya Richard West dan Lynn H. Tyrner juga dijelaskan suatu cara umum yang bisa digunakan untuk mengklasifikasikan teori bermula dari tingkat generalitasnya.Teori seringkali dilihat dari arti luas (universal), menengah (umum), dan sempit (sangat spesifik). Teori dalam arti luas berusaha untuk menjelaskan semua fenomena seperti komunikasi. Kemudian, teori dalam arti menengah berusaha untuk menjelaskan suatu aspek tertentu dari sebuah fenomena seperti komunikasi. Teori dalam arti sempit berusaha menjelaskan suatu aspek terbatas dari suatu fenomena seperti komunikasi.

Menurut Jonathan H. Turner pada bukunya tahun 1986 (dalam West, 2008: 49) mendefinisikan teori sebagai sebuah proses mengembangkan ide-ide yang membantu kita menjelaskan bagaimana dan mengapa suatu peristiwa terjadi. Definisi ini berfokus pada sifat dasar dari pemikiran teoritis tanpa menjelaskan dengan terperinci apa hasil yang mungkin muncul dari pemikiran ini. Pada tahun 1993, William Doherty dan koleganya (dalam West, 2008: 50) menambahkan definisi Turner dengan “proses dan produk”. Menurutnya berteori adalah proses mengorganisasi dan merumuskan ide secara sistematis untuk memahami fenomena tertentu. Teori adalah seperangkat ide yang saling berhubungan yang muncul dari proses tersebut.

Stephen Littlejohn dan Karen Foss (2005) menyatakan (dalam West, 2008: 49) bahwa sistem yang abstrak ini didapatkan dari pengamatan yang sistematis.

Pengertian Komunikasi

Menurut Littlejohn dan Foss (2008) dalam buku Theories of Human Communication menyatakan, komunikasi adalah salah satu dari kegiatan sehari-hari yang benar-benar terhubung dengan semua kehidupan kemanusiaan sehingga komunikasi adalah pusat kehidupan kemanusiaan.

Menurut Carl I. Hovland, komunikasi adalah proses yang memungkinkan seseorang (komunikator) menyampaikan rangsangan (biasanya lambang-lambang verbal) untuk mengubah perilaku orang lain (komunikate)

Menurut Harold Lasswell, arti dapat diketahui setelah menjawab pertanyaan Who Says What In Which Channel To Whom With What Effect?. Berdasarkan definisi Lasswell ini dapat diturunkan lima unsur komunikasi yang saling bergantung satu sama lain. Pertama, sumber, sering disebut juga pengirim, penyandi, komunikator, pembicara, atau originator. Sumber adalah pihak yang berinisiatif atau mempunyai kebutuhan untuk berkomunikasi. Sumber boleh jadi seorang individu, kelompok, organisasi, institusi, atau bahkan negara. Kedua, pesan, yaitu apa yang dikomunikasikan oleh sumber kepada penerima. Pesan merupakan seperangkat simbol verbal atau nonverbal yang mewakili perasaan, nilai, gagasan atau maksud sumber tadi. Ketiga, saluran atau media, yakni alat atau wahana yang digunakan sumber untuk menyampaikan pesannya kepada penerima. Keempat, penerima, sering juga disebut sasaran/tujuan, komunikan, penyandi-balik, khalayak, pendengar, atau penafsir, yakni orang yang menerima pesan dari sumber. Kelima, efek, yaitu apa yang terjadi pada penerima setelah ia menerima pesan tersebut.

Menurut Raymond S. Ross, komunikasi adalah suatu proses menyortir, memilih, dan mengirimkan symbol-simbol sedemikian rupa sehingga membantu pendengar membangkitkan makna atau respons dari pikirannya yang serupa dengan yang dimaksudkan komunikator.

Pengertian Teori Komunikasi

Menurut Littlejohn (1996), teori komunikasi adalah satu teori atau sekumpulan “pemikiran kolektif” yang didapati dala keseluruhan teori terutamanya yang berkaitan proses komunikasi.

Menurut Cragan & Shields (1998), teori komunikasi ialah hubungan di antara konsep teoretikal yang membantu untuk memberi secara keseluruhan ataupun sebagian, keterangan, penjelasan, penerangan, penilaian ataupun ramalan tidakan manusia yang berdasarkan komunikator yang berkomunikasi (bercakap, menulis, membaca, mendengar, menonton dan sebagainya) untuk jangka waktu atau masa tertentu melalui media (alat bantu).

Fungsi dan Tujuan Teori Komunikasi

  1. Fungsi Teori Komunikasi

Ada bermacam – macam fungsi teori dari beberapa ahli. Seperti yang diungkapkan oleh Littlejohn yang menyatakan 9 fungsi dari teori, yakni :

  • Mengorganisasikan dan menyimpulkan pengetahuan tentang suatu hal. Ini berarti bahwa dalam mengamati realitas kita tidak boleh melakukan secara sepotong-sepotong. Kita perlu mengorganisasikan dan mensintesiskan hal-hal yang terjadi dalam kehidupan nyata. Pola-pola dan hubungan-hubungan harus dapat dicari dan ditemukan. Pengetahuan yang diperoleh dari pola atau hubungan itu kemudian disimpulkan. Hasilnya (berupa teori) akan dapat dipakai sebagai rujukan atau dasar bagi upaya-upaya studi berikutnya.
  • Teori pada dasarnya menjelaskan tentang suatu hal, bukan banyak hal.
  • Teori harus mampu membuat suatu penjelasan tentang hal yang diamatinya. Misalnya mampu menjelaskan pola-pola hubungan dan menginterpretasikan peristiwa-peristiwa tertentu.
  • Teori tidak sekedar memberi penjelasan, tapi juga memberikan petunjuk bagaimana cara mengamatinya, berupa konsep-konsep operasional yang akan dijadikan patokan ketika mengamati hal-hal rinci yang berkaitan dengan elaborasi teori.
  • Membuat predikasi. Meskipun kejadian yang diamati berlaku pada masa lalu, namun berdasarkan data dan hasil pengamatan ini harus dibuat suatu perkiraan tentang keadaan yang bakal terjadi apabila hal-hal yang digambarkan oleh teori juga tercermin dalam kehidupan di masa sekarang. Fungsi prediksi ini terutama sekali penting bagi bidang-bidang kajian komunikasi terapan seperti persuasi dan perubahan sikap, komunikasi dalam organisasi, dinamika kelompok kecil, periklanan, public relations dan media massa.
  • Fungsi heuristik atau heurisme. Artinya bahwa teori yang baik harus mampu merangsang penelitian selanjutnya. Hal ini dapat terjadi apabila konsep dan penjelasan teori cukup jelas dan operasional sehingga dapat dijadikan pegangan bagi penelitian-penelitian selanjutnya.
  • Teori tidak harus menjadi monopoli penciptanya. Teori harus dipublikasikan, didiskusikan dan terbuka terhadap kritikan-kritikan, yang memungkinkan untuk menyempurnakan teori. Dengan cara ini maka modifikasi dan upaya penyempurnaan teori akan dapat dilakukan.
  • Fungsi kontrol yang bersifat normatif. Asumsi-asumsi teori dapat berkembang menjadi nilai-nilai atau norma-norma yang dipegang dalam kehidupan sehari-hari. Dengan kata lain, teori dapat berfungsi sebagai sarana pengendali atau pengontrol tingkah laku kehidupan manusia.
  • Fungsi ini terutama menonjol di kalangan pendukung aliran interpretif dan kritis. Menurut aliran ini, teori juga berfungsi sebagai sarana perubahan sosial dan kultural serta sarana untuk menciptakan pola dan cara kehidupan yang baru.

 

Secara umum, menurut Infante, Rancer dan Womak mengemukakan empat fungsi teori yaitu mengelola berbagai macam pengalaman yang luas dengan proposisi lebih sedikit sehingga teori hanya merupakan gambaran kecil dari sebuah fenomena, memperluas/memperkaya pengetahuan, memacu penelitian, dan menuntun berbagai macam penelitian yang akan dilakukan di masa mendatang. Memberi fungsi kontrol untuk mengantisipasi suatu kejadian yang akan terjadi.

Oleh karena itu, dapat ditarik sebuah kesimpulan fungsi dari teori komunikasi adalah sebagai berikut : 1) Teori komunikasi dijadikan sebagai pedoman dan penuntun dalam melakukan penelitian dibidang komunikasi dan informasi; 2) Teori komunikasi menjadi lebih adaktif dalam memperoleh suatu pemahaman yang lebih luas; 3) Teori Komunikasi menginteprestasikan suatu peristiwa menjadi lebih fleksibel; 4) Dengan  Teori Kumunikasi dapat  menemukan hal-hal baru yang lebih bermanfaat; 5) Teori komunikasi dapat memahami suatu fenomena atau kejadian secara teoritis maupun praktis; 6) Dengan teori komunikasi dapat membuat hidup lebih arif dan bijaksana dalam berfikir maupun bertindak.

  1. Tujuan Teori Komunikasi

Dalam arti luas, tujuan dari teori dapat termasuk menjelaskan, memahami, melakukan prediksi, dan mendorong perubahan sosial; kita mampu menjelaskan sesuatu karena adanya berbagai konsep dan hubungan konsep-konsep tersebut yang dijelaskan dalam sebuah teori. Kita mampu memahami sesuatu karena berpikir secara teoritis. Selain itu, kita mampu melakukan prediksi mengenai sesuatu berdasarkan pola yang dipaparkan dalam sebuah teori. Akhirnya, kita juga mampu mendorong terjadinya perubahan sosial atau pemberdayaan melalui pertanyaan teoritis (dalam West, 2008: 52).

Paradigma Teori Komunikasi

  1. Teori Komunikasi berdasarkan Paradigma Positivisme

Sosiologi merupakan ilmu sosial pertama yang dikembangkan peradaban manusia sehingga prinsip-prinsip sosiologi yang positivisme menjadi dasar ilmu komunikasi. Positivisme logis memiliki pengaruh yang cukup penting pada perkembangan ilmu komunikasi. Paradigma  positivisme menarik metode ilmu alam ke ilmu sosial.  Paradigma positivisme mendefinisikan komunikasi sebagai suatu proses linier atau proses sebab akibat yang mencerminkan pengirim pesan komunikator untuk mengubah pengetahuan penerima pesan yang pasif (Mulyana, 2000: 58). Batasan komunikasi pada paradigma ini berlangsung satu arah, yang mengisyaratkan penyampaian pesan searah dari seseorang (atau lembaga) kepada seseorang lainnya, baik secara langsung maupun tidak langsung. Perspektif yang berusaha memadatkan fenomena sosial dalam bentuk ilmiah membuat hasil penelitian fenomena menjadi dangkal. Pada komunikasi, paradigm ini hanya memfokuskan pada saluran sebagai cara mendapatkan komunikasi yang efektif.

  1. Teori Komunikasi berdasarkan Paradigma Post-Positivisme

Perspektif post-positivisme mambawa pengaruh yang besar pada ilmu sosial termasuk Ilmu Komuniasi. Melalui kritik yang mendasar terhadap positivisme yang terlalu realis, bebas nilai, dan memisahkan subjek dan objek penelitian, post-positivisme memberikan model penelitian khas ilmu sosial. Post positivisme memberikan andil dalam memberikan pemikiran bahwa tidak semua hal di bumi ini bisa ditentukan secara pasti dengan penelitian. Fenomena sosial adalah fenomena yang paling sulit untuk ditentukan secara pasti, karena unsur utama pembentuk fenomena sosial adalah manusia. Manusia adalah makhluk yang paling dinamis, terkait fisik memang masih lebih mudah untuk diukur seperti berat badan atau tinggi badan, tetapi akan sangat sulit untuk menentukan perilakunya dari satu masa ke masa yang lain. Inilah yang menjadi fokus dari paradigm post-positivisme yang juga berprinsip bahwa perlu memperhitungkan penyebab dari suatu fenomena sosial yang terjadi.

  1. Teori Komunikasi berdasarkan Paradigma Konstruktivisme

Ilmu komunikasi dalam perspektif kontruktivisme tidak hanya mulai mempertimbangkan konstruksi namun juga menyediakan cara-cara penelitian yang khas. Konstruktivisme menolak pandangan positivisme yang memisahkan subjek dan objek komunikasi. Bahasa dalam pandangan konstruktivisme tidak hanya sebagai alat dan dipisahkan dari subjek. Konstruktivisme menganggap subjek sebagi faktor sentral dalam kegiatan komunikasi serta hubungan-hubungan sosialnya. Subjek memiliki kemampuan melakukan kontrol terhadap isi pesan.

Konstruktivisme berpendapat bahwa semesta secara epistemologi merupakan hasil konstruksi sosial. Pengetahuan manusia adalah konstruksi yang dibangun dari proses kognitif dengan interaksinya dengan dunia objek material. Konstruktivisme menolak pengertian ilmu sebagai “terberi” dari objek pada subjek mengonstruksi ilmu pengetahuan. Pandangan konstruktivis mengakui adanya interaksi antara ilmuwan dengan fenomena yang dapat memayungi berbagai pendekatan atau paradigma dalam ilmu pengetahuan.

  1. Teori Komunikasi berdasarkan Paradigma Kritis

Teori kritis lahir sebagai koreksi dari pandangan kontruktivisme yang kurang sensitif pada proses produksi dan reprosuksi makna yang terjadi secara historis maupun intitusional. Analisis teori kritis tidak berpusat pada kebenaran/ketidakbenaran struktur tata bahasa atau proses penafsiran seperti pada konstruktivisme. Tradisi kritis memiliki cakupan yang luas sehingga teori-teori yang barada dalam tradisi kritis amatlah beragam.

 

Daftar Pustaka

Ardianto, Elvinaro & Bambang Q. Anees. 2009. FIlsafat Ilmu Komunikasi. Bandung: Simbiosa Rekatama Media.

Burgoon, Michael. 1974. Approaching Speech/Communication. New York: Holt, Rinehart & Winston, hlm. 10-11.

Cragan, J. F., & Shields, D. C. 1998. Understanding communication theory: The communicative forces for human action. Boston: Allyn and Bacon.

Effendy, Onong Uchjana. 1997. Ilmu Komunikasi: Teori dan Praktek. Bandung: Remaja Rosdakarya, hlm.4.

Infante, Dominic A. dkk. 1997. Building Communication Theory. Edisi ke-3. Illinois: Waveland Press.

Littlejohn, Stephen W. dan Karen A. Foss. 2008. Theories of Human Communication. USA: Lyn Uhl.

Ross, Raymond S. 1983. Speech Communication: Fundamentals and Practice. Edisi ke-6. Englewood Cliffs. New Jersey: Prentice Hall, hlm. 8.

West, Richard & Lynn Turner. 2009. Introducing Communication Theory: Analysis and Application 4th Edition. McGraw-Hill Education, hlm. 54.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s