Kita dan Desa Linggar

5 Juni 2016.

Waktu itu aku baru pulang dari Bandung sehabis menginap di rumah kakak tingkat karena kemacetan Bandung dan Jatinangor yang tidak dapat diuraikan. Penat dan lelah rasanya jika harus pulang ke Jatinangor dan berhadapan kembali dengan kemacetan, maka aku memutuskan untuk menginap di Bandung sehari sebelumnya.

Tiba di Jatinangor sekitar pukul 09.30 dengan keributan Vina yang meminta pergi ke Rancaekek via Line. Masih dengan segala kelelahan kemarin, ingin rasanya menolak ajakannya. Akan tetapi, sepertinya ia tahu cara “meracuniku” untuk ikut dengannya ke Rancaekek. Walhasil, aku menyetujui ajakannya untuk berangkat ke Rancaekek.

Setibanya di kosan, bukannya langsung beberes diri, aku malah membuka laptop dan sarapan. HAHA. Vina tiba di kosan sekitar pukul 11.00 dan ia sebal melihatku masih tenang-tenang saja dan belum bersiap. Aku membujuknya dan ia luluh, malah akhirnya ikut beli makan.

Sekitar pukul 12.15 kami meninggalkan kosanku dan bertemu sebentar dengan Romi untuk urusan “bisnis”. Kami menunggu El sejenak untuk kemudian berangkat ke Rancaekek. Ketika kami masih menunggu El, Vina bertanya, “Nis, uda tau alamatnya kan ? Aku nggak tahu lo.”

“Mana ku tau. Kirain kamu tau,” jawabku asal.

“Lah gimana trus ? Katamu uda tau tadi,” tuduh Vina padaku.

“Hahaha. Iye iye. Uda aku tanya ke temenku. Kalem si,” candaku.

Sebelumnya aku sudah tahu Vina pasti tidak tahu arah. Jadilah aku bertanya pada teman super cerewetku, si Putri, “bos” Rancaekek hehe.

Ketika El tiba, kami sudah bersiap untuk naik angkot ketika tiba-tiba Agi hadir di seberang jalan dan berteriak, “Kalian mau ke mana ?”.

Huu. Dia mah mau tau aja, pikirku. Kita pun menjelaskan lokasi dan alasan kami pergi. Mendengar alasan kami, Agi pun memutuskan untuk ikut, padahal awalnya ia berniat untuk makan siang. Jadilah kami berempat pergi mengerjakan wawancara untuk tugas akhir “tercinta” kami bersama.

Dengan sedikit kekalutan akan tersesat dan tidak sampai tujuan, Alhamdulillah kami tiba di depan gang Linggar sesuai arahan temanku, Putri. Namun, berdasarkan temanku, pabrik tekstil yang mengganggu aktivitas warga itu ada di depan gang, namun yang kami lihat justru pom bensin. Karena kami berempat diskusi tiada akhir, aku pun memberanikan tanya pada warga sekitar yang sedang menunggu becaknya. Dari bapak baik yang menjawab pertanyaanku itu, kami tau bahwa pabrik tersebut berada di samping pom bensin dan kami yang kurang jeli melihat. Pertanyaan berikutnya mengenai lokasi persawahan yang terkena limbah pabrik tersebut dijawab sang bapak bahwa jaraknya adalah 3 km dari tempat kami berdiri. “Tinggal lurus aja, neng, nanti ada pertigaan belok kanan, sudah sampe persawahannya,” begitu kira-kira katanya.

Setelah menyampaikan jawabanku pada El, Agi, Vina dan berdiskusi, akhirnya kami memutuskan bahwa 3 km itu dekat (entah siapa yang bilang, yang pasti di antara kami) dan lebih baik kami berjalan kaki saja dan tidak perlu naik becak. Oke, pikirku. Maka, kami pun mulai berjalan menuju area persawahan yang dimaksud Vina.

Lima belas menit berjalan kami mulai mengeluh. “Tadi katanya 3 km deket ?” celetuk salah satu dari kami. “Duh mendingan naik becak kan dari tadi,” celetukku yang mulai lelah berjalan.  Sepertinya 3 km jauuuuh sekali hingga kami tidak akan menemukannya jika berjalan. “Andai ada ojek ya,” celetuk salah satu dari kami (bukan aku tapi). Berjalan, berjalan, dan berjalan. Kami berjalan tanpa arah dan hanya mengandalkan arahan setiap orang yang kami tanya arah ke area persawahan Rancakeong.

Ketika tiba di sebuah persimpangan berupa perempatan jalan, kami menemukan dua tukang becak. Pas sekali dua tukang becak ini pasti bisa membawa kami berempat ke Rancakeong. Aku pun mengajak Vina, El, dan Agi untuk naik becak, namun sayang, mungkin karena mereka kelelahan mereka tak menjawabku sepatah kata pun.

“Nis tanya lagi gih,” suruh salah seorang dari mereka.

Hmm. Menarik. Giliran tanya arah saja nyuruh-nyuruh aku, batinku. Huft. Setelah bertanya ini-itu, bapak becak pun menjawab bahwa tujuan kami sudah dekat dan tinggal belok kanan lalu lurus saja. Beliau pun bilang sudah bilang bahwa sudah dekat.

Hm. Aku curiga. Biasanya definisi “dekat” orang Sunda itu adalah makna kiasan yang artinya jauh. Ya sudahlah. Kami menerima info tersebut dan melanjutkan perjalanan.

Setelah berpuluh-puluh menit perjalanan kaki yang melelahkan, akhirnya kami sampai di tujuan kami. Sejauh mata memandang yang terlihat adalah hamparan sawah. Jarak antara desa yang kami lewati dengan desa di ujung persawahan terlihat cukup jauh. Melihat area persawahan yang asri membuat kami tersenyum seakan lelahnya perjalanan terbayarkan dengan pemandangan ini. Akan tetapi, ketika melihat air yang menggenangi padi-padi sawah tersebut, senyum kami menghilang dan bergidik ngeri. Pemandangannya persis seperti yang sering kami dengar, air hitam menggenangi sawah-sawah dan membuat kondisi memburuk akibat limbah industri yang langsung dibuang ke sungai. Hiii…

DSC07712
Beberapa lahan persawahan masih bisa ditanami dan sisanya sudah tidak dapat terselamatkan. Petani yang kami temui berkata jika setiap panen awalnya bisa beberapa ton, tapi sekarang setiap panen bisa dapet 2-3 kwintal saja sudah Alhamdulillah

Kami rehat sejenak untuk kemudian bersemangat mencari narasumber korban polusi pabrik industri di Rancaekek ini. Kita terbagi dalam dua tim pencari (wetss sok keren .. haha), yakni Agi dan El, aku dan Vina. Agi dan El pergi ke persawahan untuk mendapatkan testimoni petani-petani, sementara aku dan Vina mewawancarai warga sekitar yang berada di desa ujung persawahan. Huft. Perjalanan yang cukup memakan waktu lagi, tapi tetap kita lakukan (demi tugas akhir ! huhu).

Usut punya usut, air menghitam di Desa Linggar ini telah ada sejak pabrik industri di depan gang mereka hadir. Di awal, tidak ada masalah yang terjadi hingga pembuangan limbah industri secara sembarangan itu terjadi. Pabrik industri membuang limbahnya ke sungai Cikijing yang sering dimanfaatkan warga untuk mencuci dan memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Intensitas yang terus-menerus dari pembuangan limbah akhirnya membuat sungai Cikijing berubah menghitam dan tidak memungkinkan untuk digunakan lagi.

Bukannya tidak protes, warga sekitar bantaran sungai Cikijing dan Desa Linggar telah sering melakukan protes terhadap pabrik industri, namun apalah daya mereka. Kekuatan yang melindungi pabrik industri lebih besar. Belum lagi surat-surat izin yang telah dimiliki dan topangan preman sekitar yang dibayar untuk membungkam suara-suara sumbang yang tidak sesuai dengan keinginan pabrik membuat warga semakin tidak berdaya.

“Da kita mah orang kecil, neng. Kita bisa apa ?” jawab seorang petani yang aku wawancarai kala itu.

Hm.. pilu aku dan Vina mendengarnya. Hal serupa pun diucapkan oleh pasangan suami-istri yang kami wawancara. Mereka mengatakan khawatir apabila anak-anaknya main ke luar, terutama ke daerah persawahan.

“Khawatir neng. Airnya kan ga baik buat kesehatan. Apalagi buat kulit, bisa bentol-bentol merah kalo kena,” kata pasangan suami-istri tersebut.

Selain itu, hal lain juga diutarakan oleh ibu rumah tangga yang tinggal tepat di samping sungai Cikijing.

“Kalau hujan, biasanya sungainya banjir dan sampai masuk ke rumah. Kadang sampai sebetis, neng.” Tutur ibu tersebut sambil menggendong bayinya.

Dia punya bayi dan air di lingkungannya sangat tidak bagus bagi bayinya yang kulitnya masih sensitif. Hmm.. kasihan. Berdasarkan penuturan beberapa orang yang kami wawancarai, masih ada warga yang menggunakan air hitam sungai Cikijing, tetapi hanya untuk mencuci baju. Tentu resikonya adalah tangan mereka berbentol merah, baju mereka pun tidak sebersih biasanya. Akan tetapi, warga menyiasatinya dengan menyetrika setiap baju yang telah dicuci sehingga kuman-kuman dari bekas cuciannya mati (hal ini belum dibuktikan secara ilmiah, tetapi menurut warga jika baju disetrika, maka baju tidak membuat gatal-gatal seperti halnya terkena air limbah).

Berdasarkan penuturan istri dari pasangan suami-istri yang kami wawancara, pabrik telah berdiri sejak ia berumur 10 tahun hingga ia telah menikah. Air sungai Cikijing telah berubah banyak sejak saat itu. Masih banyak warga yang mengandalkan sumur hingga hari ini, tetapi air buangan limbah telah membuat banyak sumur warga yang tercemar sehingga tak dapat digunakan lagi. Hal ini masih diperparah lagi dengan rusaknya bendungan sungai beberapa tahun yang lalu. Bendungan yang berisi limbah pun menyebar ke seluruh Desa Linggar dan mengenai warga. Akibatnya, tentu bentol-bentol merah dan penyakit kulit lainnya.

Terakhir, berdasarkan anak kecil yang kami wawancara, ia menuturkan bahwa ia tahu mengenai bahaya air limbah buangan pabrik industri di depan gang mereka.

“Tau, tapi tetep main. Habisnya enak main di sawah kak hehe,” begitu tutur anak-anak polos yang sempat kita wawancarai.

HAHAHA. Anak-anak tetaplah anak-anak bagaimanapun bentuk dan rupanya.

Ketika kami menanyakan bagaiman peran pemerintah setempat ataupun instansi lainnya, well, jawabannya cukup mengejutkan.

“Kalo pemerintah setempat mah biasanya kasih 50 ribu sama selimut kadang-kadang. Waktu itu juga ada wakil gubernur datang,” kata bapak petani.

“Oiya pak ? Ngapain ? Kasih bantuan ?” tanyaku dan Vina berharap bantuan gubernur lebih hebat daripada setempat (huh!)

“Ya gitu neng. Waktu itu datang sampai bikin macet. Ini jalanan antar desa sampai macet neng. Mereka survei-survei gitu, habis itu pergi,” kata pak petani polos.

Jeng jeng jeng jeng jeng ……….

Demi apapun ya -_- sudah datang-datang heboh, bahkan sampai bikin macet jalan kecil di desa, tapi ternyata cuma survei ? sungguh terlalu.

Intinya adalah pemerintah tidak peduli. Huft. Sedih. Menyedihkan. Tingkat tinggi tinggi sekali. Inikah yang disebut pemimpin ? yang katanya melindungi rakyatnya. Sungguh kecewa. Pemimpin dalam Islam tak seharusnya acuh. Pemimpin dalam Islam itu ibarat perisa, sabda Rasul SAW. Orang-orang berjuang di belakangnya dan berlindung padanya. Itu namanya pemimpin. Sedih maksimal-lah dengan keadaan orang-orang di Desa Linggar.

Untuk teman-teman yang masih banyak stok airnya. Ingat !!! jangan pernah memakai air secara boros. Ingatlah masih banyak teman-teman kita di luar sana yang tidak dapat mengakses air bersih. Kalau kata iklan “sekarang sumber air so dekat” jangan percaya deh ya. Kan itu kata iklan. Iklan kan membagus-baguskan, ya wajar kalau iklannya bagus. Buktinya masih banyak saudara-saudara kita yang kekurangan dan bahkan tidak bisa mengakses air bersih. Jadi, hemat-hemat air ya.

*****

            Setelah melakukan wawancara dan segala macamnya, kami memutuskan untuk kembali. Entah kenapa ketika kami akan kembali pulang, langkah kami terasa ringan seakan sudah tahu jalannya, bahkan jaraknya pun terasa dekat. Yahh.. mungkin ini karena beban kami sudah terangkat. Wawancara sudah, semuanya sudah, tinggal ngetiknya aja yang belom, makanya jalan pulang pun rasanya ringan sekali.

Karena kita baru selesai wawancara sekitar pukul 16.00, maka kami memutuskan untuk sholat di masjid terdekat. Aku dan El sudah berbahagia sekali akan ke masjid. Bukan karena apa, tetapi kami ingin ke kamar mandi untuk membuang hajat yang tertahan sejak tadi. Setibanya di masjid terdekat, sayang sekali, ternyata masjid tersebut memiliki kamar mandi terbuka. Hiks. Hiks. Pupuslah harapanku dan El untuk ke kamar mandi. Kami celingak-celinguk untuk melihat sekitar dan ketika kami berpandangan satu sama lain, kami berpikiran hal yang sama, yakniiii… nebeng ke rumah warga. HAHA. Entahlah, mungkin karena the power of kepepet, maka kami pun tidak merasa malu untuk meminta izin pada warga untuk meminjam kamar mandinya.

P_20160605_162437
Ini rumah bapak baik hati yang meminjamkan toiletnya pada kami 🙂

Kami melihat ada sebuah kosan terdekat yang terletak di depan masjid dan menghampirinya. Banyak pintu kosan tertutup, lalu mata kami tertuju pada seorang bapak yang sedang mencuci sepeda motornya. Kami pun mendekatinya.

“Pak, bapak tinggal di sini ?” tanyaku memulai percakapan.

“Iya neng, kenapa ?” jawabnya.

“Punten pak, mau numpang ke kamar mandinya boleh ? kataku dan El bebarengan.

Sepertinya bapak itu curiga karena kami orang tak dikenal yang tiba-tiba datang menumpang kamar mandi. Ia pun menanyai kami in-itu sebelum akhirnya kami diperbolehkan memakai kamar mandi kosan yang ternyata adalah rumahnya.

Kami pun memasuki rumahnya dan ditunjukkan oleh istrinya kamar mandi rumahnya. Aku dan El bergantian ke kamar mandi. Selesai dari sana, El berbisik padaku, ini kocak Nis, harus ditulis, katanya.HAHA. mungkin, jawabku kecil.

Selepas dari sana kami berterima kasih pada keluarga kecil tersebut dan aku pun segera kembali ke masjid untuk sholat Ashar. Sepulangnya dari sana, angkot hijau rute Majalaya-Gedebage via Sayang telah habis sehingga kami pun naik rute Cicalengka hingga ke Cileunyi. Sesampainya di Cileunyi, Aku, Vina, dan El sudah bersiap naik angkot cokelat menuju arah Jatinangor ketika Agi mengajak kami untuk naik angkot dari depan gapura menuju Jatinangor. Agi bilang ini demi alasan ekonomis. Huft. Oke. Untuk alasan uang, Agi semangat sekali. Karena tidak ingin meninggalkan satu dan lainnya, maka kami pun mengikuti saran Agi yang aneh.

Akhirnya kami naik angkot. Kami sudah lega ketika angkot mulai memasuki Jatinangor. Tiba di belokan tanjakan menuju kampus ITB Jatinangor, tiba-tiba angkot berhenti sambil terbatuk-batuk mesinnya. Seluruh penumpang di angkot panik, takut terjatuh dari tanjakan ini dan sebagainya. Untung si bapak memakai rem tangan. Setelah beberapa kali percobaan, mesin pun menyala dan angkot pun melaju. El, Vina, dan Agi yang lapar berniat untuk makan dan aku sebagai korban yang sebenarnya tidak ingin makan, dipaksa untuk ikut melihat mereka makan (demi banget ini mah ga penting-_-). Kami berdiskusi di angkot ketika tiba-tiba angkot berhenti dengan tersedak-sedak. Seluruh penumpang mulai sebal. Ketika mesin mulai berjalan normal lagi, kami berempat memutuskan untuk turun karena angkot seram ini.

P_20160605_172451
Destinasi akhir kami pada 5 Juni 2016

Kami pun melanjutkan ke warteg FAMILY, destinasi terakhir kami untuk El, Vina, dan Agi makan. Aku hanya duduk diam dan makan pisang (karena ga laper2 amat). Selepas itu ? Kami pulang dan bersiap-siap menyambut 1 Ramadhan kami dengan sholat Tarawih. Yey !

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s