Menerawang Masa Depan Penerus Bangsa

Anak-anak merupakan aset berharga bagi negara. Begitulah ungkapan yang sering terdengar dan diperdengarkan media pada masyarakat. Layaknya sebuah aset berharga, tentu ia akan selalu dilindungi dengan bermacam cara. Akan tetapi, yang terjadi di Indonesia tak menunjukkan bahwa anak-anak menjadi aset berharga.

Kasus kekerasan terhadap anak di Indonesia terus meningkat sejak 2010. Dimulai dengan angka 2.046 kasus yang terjadi dengan 42 persennya merupakan kasus kejahatan seksual, angka ini terus meningkat setiap tahunnya hingga pada 2015 menjadi 2.898 kasus di mana 59,30 persennya merupakan kasus kekerasan seksual.

Komisi Nasional Perlindungan anak pun berani mengatakan bahwa tahun kemarin adalah angka kejahatan pada anak tertinggi selama lima tahun terakhir. Dikatakan pula bahwa 62 persen kekerasan pada anak terjadi pada lingkungan terdekat seperti rumah dan sekolah.

Contohnya adalah kasus bocah asal Bali Angeline dan kasus Yuyun. Keduanya mengalami kekerasan yang dilakukan oleh orang terdekatnya, yakni ibu angkat dan tetangganya yang bahkan masih tergolong di bawah umur atau anak-anak. Hal ini tentu menimbulkan waswas dalam benak orang tua terhadap orang-orang yang berada di sekitar anak mereka.

Belum selesai kasus kejahatan pada anak, awal Juni kemarin bangsa ini dikejutkan dengan munculnya lagu anak yang memiliki lirik vulgar dan tak senonoh yang dinyanyikan oleh anak berumur 12 tahun asal Madura. Liriknya menceritakan kehidupan sang anak yang ditinggalkan ayahnya karena bercerai dengan ibunya dan ayah pun menikah lagi.

Permasalahan terhadap generasi penerus bangsa ini datang silih berganti tak henti-henti. Pemerintah pun turun tangan mengurus. Pemerintah membuat Undang-Undang nomor 23 Tahun 2002 yang kemudian diperkuat dengan UU No. 35 tahun 2014. Lembaga Swadaya Masyarakat pun turun tangan mengurusi, seperti KPAI. Berbagai saran diberikan oleh KPAI kepada pemerintah. Sebut saja hukum kebiri, pendidikan seksual, mempercepat pembuatan UU No. 11 tahun 2012 mengenai peradilan anak dan menciptakan lingkungan rumah dan keluarga ramah anak. Beberapa saran tersebut merupakan saran dari beberapa lembaga masyarakat yang peduli terhadap anak. Tak ada yang salah dengan seluruh saran yang diberikan, tetapi akankah menyelesaikan masalah ?

Gambar ini merupakan desain bachir4design.deviantart.com

Masalah yang terjadi pada generasi sekarang merupakan masalah moral yang salah diakibatkan pemikirannya yang salah. Hal ini terjadi karena pemikiran manusia yang memisahkan agama dari kehidupannya sehingga manusia tak merasa hidupnya diawasi oleh Sang Pencipta sehingga ia merasa dapat melakukan apapun yang ingin ia lakukan tanpa memikirkan akibatnya.

Kemudian, permasalahan lagu ataupun menambahkan kurikulum pendidikan seksual rasanya tak akan diperlukan jika setiap individu sudah memiliki penanaman karakter moral agama yang kuat. Hal ini tentu akan membentengi setiap individu dari melakukan perilaku yang buruk karena ia selalu merasa diawasi Sang Pencipta dimanapun ia berada. Tak cukup dengan individu yang bermoral, tetapi juga masyarakat yang bertanggung jawab terhadap sekitarnya pun haruslah ada untuk menekan timbulnya setiap kejadian yang tidak diinginkan. Akan tetapi, seluruh hal ini tidak akan dapat membentengi masyarakat jika tidak ada hukum yang melindungi masyarakat. Ketika hukum yang diterapkan dalam suatu sistem tersebut kuat, maka masyarakatnya pun akan benar-benar terlindungi dan seluruhnya hanya akan mampu terwujud ketika seluruh syariat Islam ditegakkan di muka bumi ini sehingga Islam Rahmatan lil’ Alamin benar-benar terwujud di bumi.

Tulisan ini telah dimuat di http://sosialnews.com/opini/menerawang-masa-depan-penerus-bangsa.html

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s