Budaya Masyarakat Tontonan

Kapitalisme

Kapitalisme adalah sebuah sistem ekonomi yang di mana faktor produksi dan kegiatan industrinya dikendalikan oleh pemangku kepentingan (stakeholder) yang bertujuan untuk mencari untung atau laba. Kapitalisme bekerja untuk memenuhi segala lini dalam kehidupan masyarakat. Ia memproduksi komoditas atau barang yang memiliki nilai ekonomis untuk memenuhi permintaan yang bersumber dari kebutuhan masyarakat. Kapitalisme memproduksi komoditas untuk memenuhi kebutuhan masyarakat atas dasar dorongan kepentingan-kepentingan pribadi karena kompetisi dan kekuatan individualisme dalam menciptakan keteraturan ekonomi (Agustiati, 2009).

Dalam sistem ekonomi tersebut, segala kegiatan ekonomi dari huu hingga ke hilir memiliki satu tujuan: meraup laba. Dimulai dari kegiatan produksi hingga pemasaran ditujukan untuk satu tujuan utama tersebut. Kegiatan-kegiatannya didasarkan pada logika “maksimalisasi keuntungan”, dan logika ini mempengaruhi seluruh kegiatan praktis dalam bidang produksi dan distribusi. (Filsafat ekonomi(Mikhael Dua 2008:12). Didasarkan pada logika tersebut, kapitalis akan menekan biaya produksi yang bersumber dari faktor produksi seperti upah pegawai, harga material atau bahan baku, dan biaya lainnya yang kiranya dapat ditekan.

Masyarakat Tontonan dan Komoditas

Kapitalisme berjalan ketika konsep yang ingin diterapkan pemodal untuk selalu mendapatkan untung. Untuk mendapatkan keuntungan tersebut, kapital atau pemodal membuat sistem moneter atau sistem keuangan. Sistem ini membuat alat tukar baru, selain barter, yakni dengan uang. Dengan memperbanyak uang yang dimiliki, manusia pun memiliki daya beli masyarakat yang tinggi dan mampu membeli.
Untuk mengarahkan daya beli masyarakat, pemodal membuat segmentasi. Setiap segmentasi yang dibuatnya bertujuan untuk lebih terkotak-kotaknya masyarakat.

Contohnya saja dalam masalah pemilihan berita. Setiap orang membutuhkan informasi yang akurat, tak peduli berita apapun itu. Namun, dengan munculnya kesukaan individu yang berbeda-beda, maka mulai bermunculan media baru yang lebih tersegmentasi, contohnya saja ketika seseorang menyukai berita fashion, maka secara langsung dan otomatis seseorang tak akan memandang portal berita detik.com, kompas.com, ataupun tempo.co. Akan tetapi, orang-orang akan langsung memilih untuk mengetik portal berita fashion, seperti elle.co, dan semacamnya.

Meski di awal dikatakan bahwa hobi yang memengaruhi pilihan seseorang. Namun, sesungguhnya, tidak ada satu orang pun yang sesungguhnya memiliki hobi. Hobi merupakan tayangan yang diulang-ulang sehingga seseorang merasa bahwa ia menyukai sesuatu tersebut.

Contohnya adalah penyuka klub sepak bola Manchester United. Penyuka klub sepak bola Manchester United bukanlah penyuka yang sesungguhnya. Seseorang menyukai klub sepak bola tersebut karena media massa, sebut saja televisi, terus-menerus menayangkan hal yang sama secara berulang, yakni tayangan klub sepak bola Manchester United sehingga ia menyukai Manchester United.

Kesukaan yang diteruskan ini membuat pemodal kemudian kembali mencari untung dengan membuat barang-barang komoditas. Komoditas dimaknai sebagai suatu hal atau barang yang dapat diubah fungsinya menjadi alat tukar yang bernilai. Komoditas pun menjadi ilusi faktual nyata (Guy Debord 1967: 47). Komoditas menjadi suatu hal yang penting dalam kapitalisme mengingat para pemodal yang selalu mencari untung. Bagi masyarakat, komoditas telah mengubah arah pandang masyarakat terhadap seluruh hal kebutuhannya. Suatu hal yang awalnya dibeli karena kebutuhannya, kini pembelian barang tersebut disebabkan keinginan masing-masing individu.

Contohnya, pembelian mobil saat ini. Ketika mobil mulai digunakan pada 1960-an, masyarakat saat itu memandang mobil berdasarkan fungsinya untuk dikendarai. Namun, ketika masyarakat mulai jenuh dengan bentuk mobil yang sama saja, maka kapitalisme memanfaatkan momentum ini untuk membuat benda yang sama dengan cover yang berbeda. Kini, mobil memiliki beraneka bentuk, namun fungsi dan mesinnya tetap sama, yakni untuk dikendarai. Hal ini menyebabkan masyarakat pun beralih fungsi dalam memilih barang. Awalnya masyarakat memilih berdasarkan fungsi yang ingin dipenuhinya akan kebutuhan kendaraan, namun sekarang masyarakat memilih berdasarkan nama mereka mobil yang ada, mulai Honda, Ford, Suzuki, Toyota, KIA, BMW, dan lain-lain. Orang pun menjadi merasa bangga menggunakan mobil dengan merek terkenal. Hal ini mengalihfungsikan mobil yang awalnya berfungsi sebagai kendaraan, menjadi kendaraan untuk meningkatkan prestise atau kebanggaan pada diri masyarakat.

Contoh lainnya adalah penggunaan hijab. Hijab kini memiliki banyak mereknya. Jika dahulu orang membeli kerudung hanya cukup dengan membeli kain, namun kini masyarakat yang ingin membeli kerudung telah diarahkan media massa untuk memilih barang bermerek tanpa disadarinya, baik itu merek zoya, rabbani, safira, dan lain-lainnya.

Pemilihan yang selektif ini menunjukkan sikap masyarakat yang menuntut pada prinsipnya adalah penerimaan pasif yang sebenarnya sudah diperoleh dengan cara menampilkan dalam monopoli penampilan (Guy Debord 1967: 12). Hal inilah yang disebut sebagai masyarakat tontonan.

Masyarakat tontonan adalah masyarakat yang senang mempertontonkan dirinya dengan aksesoris atau hal-hal yang melekat pada dirinya berdasarkan barang-barang komoditas. Konsep tontonan menyatukan dan menjelaskan keragaman fenomena. Ia adalah penegasan dari penampilan dari semua kehidupan manusia (Guy Debord 1967:10). Barang-barang tersebut dipakai bukan berdasarkan fungsinya, tetapi barang-barang yang dipakai digunakan untuk menunjukkan bahwa ia memakai barang bermerek sehingga ia dikenal masyarakat.

Teralienasi

Tak cukup menjadi masyarakat tontonan, tetapi seorang yang sering menjadi masyarakat tontonan pun tanpa disadarinya telah menjadi orang yang teralienasi. Keterasingan merupakan hasil timbal balik dari masyarakat tontonan dan didukung dengan masyarakat yang ada (Guy Debord 1967: 8).

Maksud dari Debord adalah ketika masyarakat yang teralienasi sesungguhnya tidak akan ada jika tidak didukung pula dengan masyarakat yang ada.

Contohnya saja, kini masyarakat mana pun membutuhkan telepon elektronik. Telepon elektronik ini beragam macamnya, ada samsung, iphone, nokia, dan macam lainnya. Telepon-telepon genggam yang awalnya dibutuhkan oleh kita ini mampu membuat kita menjadi warga yang teralienasi karena tersibukkan dengan memegang gadget dan aktivitas merunduk untuk membalas pesan singkat ataupun chat. Hal ini tentu tidak semata-mata kesalahan sebuah gadget yang membuat kita menunduk untuk membalas chat saja.

Lebih besar lagi, teralienasinya masyarakat saat ini juga didukung dengan masyarakat asli yang ada karena mereka pun tak jauh bedanya dengan masyarakat yang menggunakan telepon elektronik saat ini. Maka, merupakan hal yang wajar jika pada hari ini orang justru lebih banyak eksis di media sosial ketimbang eksis di dunia nyata. Hal ini tak lain tentu disebabkan gadget yang membuat masyarakat lebih merasa dekat dengan dunia maya ketimbang dunia nyata. Seperti yang dikatakan Debord dalam poin kesembilannya, yakni “Dalam dunia yang kocar-kacir, kebenaran adalah momen yang salah” (Guy Debord 1967).

Fetisisme

Hobi adalah ilusi yang dibuat oleh media massa yang menjadikan masyarakat menyukai sesuatu. Hobi tersebut kemudian menjadikan masyarakat yang menontonnya ingin menjadi identik dengan sesuatu yang dipandangnya.

Misalnya, kesukaan terhadap artis korea. Seseorang yang menyukai artis korea akan memiliki perasaan ingin menjadi sama atau identik dengan artis idolanya. Setiap idolanya menggunakan suatu barang, maka ia pun ingin menggunakan barang yang sama dengan yang digunakan artis kesukaannya.

Hal ini terus berulang dan membuat masyarakat semakin mempertontonkan dirinya terhadap publik dengan barang-barang yang digunakannya. Masyarakat menjadi obyek tontonan bagi masyarakat lainnya, sementara kapital atau pemodal diuntungkan dengan setiap barang yang dibeli oleh masyarakat.

Daftar pustaka

Mikhael Dua. 2008. Filsafat Ekonomi: Upaya Mencari Kesejahteraan Bersama. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.
Agustiati. 2009. Sistem Ekonomi Kapitalisme.
https://www.marxists.org/reference/archive/debord/society.htm

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s