Perubahan dalam Satu Kepastian Sastra

Sebuah novel karya sastra tentu memiliki ciri khas tersendiri. Itu yang selalu kita pahami. Kita seakan mengerti dengan jalan pikiran setiap novel. Novel tak ubahnya setiap permasalahan hidup yang dimulai dengan permasalahan, analisis, dan solusi pada akhirnya. Semua novel tentu begitu.

Misalnya saja dalam sebuah novel Tere Liye. Darwis Tere Liye membawakan ceritanya dengan gaya bertuturnya yang amat lembut gaya keibuan, meski ia bukanlah seorang ibu, bahkan seorang perempuan pun tidak. Pada penulis lainnya, pengarang sekaliber Ilana Tan dan Orizuka yang digandrungi remaja saat ini pun tak ubahnya membuat cerita cinta romantis dengan gaya yang kata remaja kini adalah kekinian.

Seluruh novel sastra tersebut tentu menarik untuk diikuti, terutama bagi mereka yang menyenangi sastra.
Namun, ada satu hal yang tak berubah dalam sebuah karya sastra, yakni alur cerita yang seakan menindas perempuan.

Disadari atau tidak, sebuah karya sastra sejak dahulu selalu mengedepankan posisi laki-laki dibandingkan perempuan. Contohnya saja dalam buku-buku Ilana Tan, ia menggambarkan bagaimana seorang perempuan tak dapat dipisahkan ketika ia bertemu dengan cinta sejatinya. Hal ini tidak hanya sekali, namun berulang secara historis.

Dimulai pada tahun 1920, karya saastra mulai dikenal di Indonesia. Karangan sastra yang dibuat adalah Siti Nurbaya. Karya yang dikarang oleh Marah Rusli Roman ini mengangkat kisah Siti Nurbaya yang tak mampu membiayai kehidupan keluarganya yang jatuh miskin dan meminjam uang pada lintah darat Datuk Maringgi untuk menyambung hidup. Itu adalah kisah yang kita kenal.

Akan tetapi, jika ditelisik secara mendalam, penulisan cerita ini tak sekadar itu. Marah Rusli Roman menggambarkan bagaimana kesedihan hidup Siti Nurbaya sejak awal hingga akhir laiknya Siti Nurbaya sebagai seorang perempuan yang tak mampu berbuat apa-apa. Ia ditinggalkan oleh orang yang sangat disayanginya, yakni Syamsul Bahri ketika pujaan hatinya pergi meninggalkannya untuk melanjutkan sekolah calon dokter di Jawa. Hal ini berlanjut hingga akhir kisah novel ini yang menceritakan Siti Nurbaya yang tak mampu berbuat apapun ketika dipaksa untuk menikah dengan Datuk Maringgi demi membayar hutang.

Berlanjut kepada tahun 1922, novel Azab dan Sengsara yang memilukan pun tak ubahnya bak drama yang menyayat hati. Kisah cinta karya Merari Siregar ini menceritakan sepasang muda-mudi bernama Aminuddin dan Mariamin yang saling mencintai, namun tak mampu untuk bersatu karena restu orang tua yang tak didapat. Alhasil, mereka pun menikahi orang-orang pilihan kedua orang tua masing-masing. Namun naasnya, di akhir cerita, tokoh perempuan novel ini, Mariamin justru mati muda karena merana akan cintanya yang tak sampai.

Novel ini pun tak ubahnya seperti Siti Nurbaya. Seorang perempuan digambarkan sebagaimana ia yang selalu lemah, rentan, dan tak mampu berbuat apapun. Perempuan digambarkan sebagai makhluk yang sangat rentan perasaannya hingga mampu mati hanya karena cinta, sesuatu yang kata orang adalah sesuatu yang indah jika dirasakan, namun menjadi penyakit yang mematikan dalam sebuah karya sastra.

Pembuatan sastra seperti Azab dan Sengsara serta Siti Nurbaya tak hanya terjadi pada tahun 1920-an. Memasuki 1970-an, novel Badai Pasti Berlalu karya Marga T. menjadi booming dengan ceritanya yang romantis saat itu. Kisah Sisca yang patah hati menjadi poin utama dalam cerita ini. Disakiti dan tersakiti oleh cinta, itulah kisah yang Marga T. tawarkan pada pembacanya. Hal ini lagi-lagi menunjukkan kekonsistenan dalam sastra Indonesia bahwa kisah sastra selalu memperlihatkan kelemahan wanita, bahkan dalam masalah cinta.

Memasuki tahun 2000, karya sastra novel pun tak banyak berubah. Meski tak lagi menggambarkan perempuan sebagai orang yang tak mampu berbuat apa-apa dan mulai mampu memasuki dunia kerja, tetapi penggambaran wanita yang selalu berada di bawah laki-laki dan tak mampu bertahan tanpa cinta pun masih menjadi hal yang pasti dalam sebuah karya sastra. Sebut saja karya sastra novel metropop yang menggambarkan gemerlapnya cerita perempuan-perempuan di kota besar. Cerita yang dibuat selalu dikemas bagus dengan menceritakan bahwa perempuan mampu berdiri sendiri. Hal ini tentu merupakan awal yang baik untuk menggambarkan perempuan.

Namun, semakin mendalam kita membaca buku, buku-buku tersebut mulai memasukkan masalah yang dialami tokoh utama dalam cerita. Permasalahan itu pun tak jarang yang selalu berujung dengan cinta yang merana dan mendambakan adanya laki-laki yang mampu mencintainya. Lagi-lagi perempuan menjadi sosok yang tertindas dan tak mampu berbuat apapun dengan cinta yang dimilikinya. Sekalipun sosok perempuan di zaman ini telah dipoles menjadi sosok yang giat bekerja dan mandiri, namun penggambaran sosok perempuan dalam sastra tentu memiliki sebuah kecacatan, entah ia rapuh dalam masalah cinta ataukah perihal lelaki.

Cinta tentu adalah hal yang fitrah bagi manusia, namun ketika cinta dijadikan pemanis bumbu dalam setiap karya sastra, hal ini tidak baik dan justru membosankan. Begitu pula dengan adanya budaya terus merendahkan perempuan dalam karya sastra. Seluruh karya sastra sejak tahun 1900 selalu dimulai dengan permasalahan yang ada pada diri perempuan. Hal ini seakan-akan menunjukkan bahwa perempuan adalah kaum yang selalu bermasalah, sementara laki-laki tidak. Padahal yang terjadi tidak demikian. Hal ini tentu harus diubah. Setiap manusia tentu memiliki masalah, baik laki-laki maupun perempuan. Tidak etis jika sebuah karya sastra hanya dibangun dari sudut pandang perempuan saja. Hal ini terus terjadi dan monoton. Justru hal ini sendiri menimbulkan kebosanan bagi pembaca yang sudah terliterasi media atau melek media.

Perlu adanya perubahan gaya penulisan sastra karena satu kepastian dalam sastra ini hampir mencapai umur satu abad dan tetap menggambarkan hal yang sama. Lelaki pun seorang manusia yang memiliki masalahnya masing-masing. Laki-laki tak selalu kuat seperti yang diceritakan dalam novel sastra. Maka, tak tertarikkah Anda untuk berubah haluan ?

—-

Tulisan ini telah dimuat di portal berikut pada 1/11/2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s