Tiga Puluh Plus Dua

Kuliah Kerja Nyata atau KKN adalah mata kuliah wajib yang bisa diambil ketika SKS Anda telah mencapai 80 SKS, jika Anda berkuliah di Universitas Padjadjaran, seperti saya.

Berbicara mengenai KKN, banyak yang saya dapat dari orang-orang di sekitar saya yang telah melewatinya terlebih dahulu. Ada yang bilang mereka bahagia, ada pula yang bercerita bahwa KKN menyebalkan dan tidak ingin terulang lagi. Ada yang kangen berat selepasnya berakhir, ada pula yang biasa-biasa. Saya ? Saya lebih menyebut KKN saya bahagia dengan beberapa pertimbangan.

KKN dimulai sejak 4 Januari 2017. Pertama tiba di sana, saya hanya mengenal beberapa orang, termasuk Koordinator Desa atau Kordes kami yang dipanggil Abdi. Ia, Arif, Arin, Ezhy, dan Dea adalah lima orang pertama yang saya kenal karena survey lapangan tempat KKN di hari-hari sebelumnya.

Banyaknya anggota KKN yang mencapai 25 orang membuat kami tidak terlalu kenal dan hafal satu sama lain pada awalnya. Maka, dua hari pertama pun dilakukan untuk perkenalan diri, kesukaan dan ketidaksukaan terhadap sesuatu, hingga penyakit yang dimiliki. Semua nampak bersemangat untuk menyelesaikan 30 hari ini dengan sesegera mungkin.

Di awal-awal, saya suka salah menyebutkan nama dua teman saya, Habib dan AW alias Abdul Wahid. Keduanya menurut saya adalah sama, lebih seperti kembar. Akan tetapi, menjelang akhir KKN saya baru menyadari bahwa keduanya ternyata berbeda jauh. Mungkin mata saya bermasalah selama 2-3 minggu pertama.

AW sering dipanggil pak ustad oleh kawan-kawan se-KKN. Hal ini lebih karena AW rajin ibadah dibanding segelintir laki-laki lainnya. Namun, di akhir gelarnya berubah menjadi pak ustad palsu, haha. Sementara Habib, ia adalah raja dangdut KKN kami. Tak pernah sehari pun ia lewatkan tanpa menyetel musik dangdut. Awalnya, ia dibully oleh kami, tetapi toh akhirnya banyak pula yang menyanyikan lagunya, termasuk Salsa, teman saya dari Fakultas Hukum yang sekarang mengenal satu lagu dangdut berjudul Meriang.

Minggu pertama KKN dilewati dengan mengobservasi sekitar dan teman-teman. Semua nampak biasa saja di awal, tetapi memasuki minggu-minggu berikutnya adalah sebuah perjuangan. Bertahan di kota orang lain yang tak dikenal adalah sebuah tantangan tersendiri bagi saya. Berjuang untuk tetap ingin berhemat agar pengeluaran tidak membengkak atau mengikuti nafsu makan yang membesar karena pilihan jajanan yang berseliweran. Tetapi, itu semua tertangani, untungnyaa.

KKN mengajarkan saya untuk menjadi pengamat yang lebih baik. Pada dasarnya, berbicara banyak bukanlah kebiasaan saya jika belum terlalu dekat dengan orang yang saya kenal, maka saya lebih banyak mengamati selama KKN.

Kejadian demi kejadian berlalu dengan sangat perlahan dan terasa lambatnya. Di minggu pertama, semua nampak baik-baik saja. Namun, semua berubah ketika kejadian di CFD Kuningan. Bak air bah, seluruh masalah mulai datang tanpa ampun. Satu teman kami sakit, dirawat, dan nyinyiran di dalam kelompok kami mengenai biaya yang akan ditanggung. Kelompok kami pun terpecah menjadi dua kubu. Mungkin tak banyak yang menyadarinya, tetapi saya sebagai pihak netral melihat dan mengamati semua yang terjadi. Tangisan dan makian adalah hal yang biasa saya dengar selama di sana. Entah makian dari siapa untuk siapa di kubu mana, semuanya tampak blur di otak saya. Saya terlanjur sedih dengan perpecahan yang terjadi dan permasalahan remeh yang seharusnya dapat diselesaikan baik-baik. Mungkin detail-detail tak perlu ditambahkan di sini.

Untungnya dalam seminggu berikutnya, semuanya tenggelam dalam kesibukan di Desa Parung, mulai kegiatan posyandu ibu dan anak hingga ibu hamil, pun dengan kegiatan kerja bakti beberes Desa Parung, ‘ngopak’, serta persiapan lokakarya yang kami adakan untuk membantu menangani permasalahan desa. Untuk sejenak, permasalahan perpecahan tersebut terlupakan.

Bak kapal yang sedang melaju di laut, maka ombak pun pasti akan lewat, menabrak kapal sekali-dua. Hal itu pun terjadi pada tim KKN kami yang mulai tenang dalam kesibukan. Kali ini masalah yang sama kembali terulang dengan ending sedikit-banyak berbeda dari sebelumnya. Banyak yang tersakiti dengan sikap salah satu teman kami ini, salah satunya masalah kepekaan hati. Saya pun tak ketinggalan ikut merasakan sakit hati karena masalah ini sebenarnya, tetapi melupakan semuanya nampaknya adalah opsi terbaik yang saya ambil. Seseorang merasakan sakit hati ketika seseorang memilih siapa yang dapat menyakiti hatinya. Itu kata penulis yang saya suka. Maka, saya memilih untuk melupakan.

Yahh.. KKN membawa banyak cerita. Ia membuat seseorang lebih bersabar, tegar, bahkan lebih kuat dibanding sebelumnya bagi ia yang manja. Ia membuat kami semua belajar banyak, bahkan KKN mampu mengeluarkan sisi terbaik dan terburuk dari seseorang. Saya bersyukur bisa melihat itu semua.

Ada orang yang emang dia jahat, ukhti. Ga ada baik-baiknya. Itu kata salah satu teman saya. Ya. Saya percaya bahwa orang jahat itu pasti ada, tetapi sejahat-jahatnya orang, selalu ada sisi kebaikan dalam dirinya. Itu yang saya katakan padanya waktu itu. Ia berkata, saya terlalu positif. Iyakah ? Entahlah. Saya hanyalah orang yang percaya bahwa setiap orang selalu memiliki sisi baiknya, andai kita mau mengamati lebih detail padanya.

Akhirnya, KKN Desa Parung pun berakhir setelah penambahan 2hari dari DPL botak kesayangan yang datang telat di tanggal 4 Februari. Semua masalah terlupakan dan termaafkan (mungkin?). Terima kasih untuk kesabaran semuanya dalam menghadapi tingkah saya di 30+2hari itu. Maaf atas banyak kesalahan, terutama insiden layangan dan alarm, hehe. Kini, yang tersisa hanya kenangan-kenangan dan harapan-harapan terbaik untuk mereka semua agar menjadi pribadi yang lebih baik setelah 30+2hari ini.

Berikut saya perkenalkan 24 teman 30+2hari saya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s