Gara-Gara Es Lilin

“Bun, Dodo pulang,” teriakku dengan suara cempreng.
“Iya, nak,” sahut Bunda dari dalam kamar. “Dodo segera ganti baju lalu makan siang ya. Bisa kan ?” tanya Bunda.
“Bisalah, Bun. Dodo kan sudah gede,” jawabku sambil membusungkan dada meskipun tidak dilihat Bunda.

Aku berlari ke ruang makan dan hendak memakan salah satu bakwan jagung di piring di meja makan ketika suara ibu terdengar lagi.

“Dodooo… jangan lupa cuci tangan dulu, nak,” teriak Bunda mengingatkan.

HAHHH..Begitulah bundaku. Ia bagaikan alarm pengingatku untuk tidak boleh ini dan itu. Bunda selalu khawatir berlebihan, mungkin ini karena aku adalah bungsu dari dua bersaudara.
Usai makan siang aku menoleh ke kanan-kiri. Sepertinya tidak ada. Mungkin Bunda sudah terlelap dalam mimpinya, pikirku sambil tersenyum.
KRIEET …
Aku membuka pintu kulkas freezer perlahan.
WAHH.. tepat seperti dugaanku, banyak es lilin buatan Bunda di sana. Aku pun mengambil satu es untukku meskipun ada tulisan “AMBIL ES LILIN BAYAR Rp1.500,-“. Kalau aku ketahuan bagaimana ya ? pikirku sejenak.

“Ah tenang saja. Bunda tidak akan tahu kok,” kata batin kecilku yang nakal.
“Sebaiknya kau jujur pada Bunda, Do. Berbohong itu tidak baik. Rasul pun tidak bersifat seperti itu kan ? Katanya kau ingin mencontoh Rasul, masa kau berbohong ?” kata batin kecilku yang baik.
“Alah.. kan cuma sekali ini. Lagian hari ini memang panas banget, makanya butuh es, ya kan ?” ujar batinku yang nakal lagi.
Hm benar juga. Udahlah tidak apa. Hanya sekali ini, putusku akhirnya.

*****

Ala bisa karena biasa. Semua kebiasaan itu dimulai dari hal-hal kecil yang dibiasakan. Begitu pula kebiasaan buruk. Semula hanya sebungkus, lama-lama menjadi tiga bungkus yang diambilnya. Bukannya tidak diketahui, Bunda merasakan kehilangan es lilinnya, tetapi tidak ada uang dalam kotaknya.

“Anak-anak, kalian tahu siapa yang mengambil es lilin ?” tanya Bunda pada Dodo dan Syamil, kakak Dodo, ketika malam tiba.
“Syamil tidak tahu, Bun. Aku kan tidak suka minum es,” jawab Syamil. “Jangan-jangan kau ya, Do ?” lanjut Syamil menggoda Dodo.
“Huh. Enak aja,” sanggah Dodo cepat. “Bundaaa.. kakak menuduhku, Bun,” rajuk Dodo pada Bunda.
“Sudah-sudah. Syamil jangan menuduh tanpa bukti ya,” ujar Bunda lembut. “Ya sudah kalau tidak ada yang tahu, tidak apa,” lanjut Bunda.

Toh Bunda tidak marah kan ? hehe. Berarti tidak apa-apa jika aku mengambil lagi, pikir Dodo sambil tersenyum.

*****

Ketika malam semakin pekat dan semua orang tertidur, Dodo terbangun akan suara yang datang dari kamar orang tuanya. Ia bangun dari tempat tidurnya dan hendak menyuruh orang tuanya agar tidak berisik. Akan tetapi, hal itu ia urungkan ketika mendengar pembicaraan keduanya.

“Lalu bagaimana dengan tabungan kita ? Sudah habis juga ?” tanya Bunda lagi.
“Kan kemarin sudah dipakai untuk memperbaiki mesin cuci dan pompa air, Bun. Sudah habis,” jawab Ayah melemah. “Bunda sendiri bagaimana ? Uang dari toko bukannya ada ?” lanjut Ayah.
“Entahlah Yah. Masih banyak yang berutang kalau yang sembako,” jawab Bunda lemah.
“Es lilin bagaimana Bun ?” tanya Ayah lagi.
“Entahlah, Yah. Es lilin habis setiap hari, tetapi uangnya tidak ada. Mungkin Dodo atau Syamil yang menjualkannya, tapi lupa meminta uangnya,” jawab Bunda lagi.
“Ya sudah. Nanti Ayah pikirkan lagi untuk uangnya ya,” kata Ayah menutup perbincangan malam itu. Ayah segera mematikan lampu kamar dan keduanya pun terlelap tidur.

Dodo yang sejak tadi berada di luar kamar menguping seluruh pembicaraan orang tuanya merasa bersalah. Ia tak menyangka keduanya tidak memiliki biaya lagi karena dirinya. Dodo merasa bersalah. Ia kembali ke kamarnya dengan perasaan berat. Naik ke tempat tidur, ia tak merasakan kantuk lagi. Ada hal yang mengganjal dalam pikirannya. Satu jam berlalu, namun Dodo tak kunjung tidur. Ia merasa harus melakukan sesuatu untuk menebus kesalahannya. Dodo pun bangkit dari tempat tidurnya dan melakukan hal tersebut. Selesai melakukannya, ia tersenyum puas. Ia pun segera terlelap tidur setelahnya.

*****

Keesokan paginya Bunda terbangun dan menemukan celengan berbentuk ayam jago di meja riasnya dan ditempeli sebuah surat. Bunda membuka surat tersebut yang bertuliskan tulisan anak kecil yang berantakan, namun dapat dibaca.

“Bunda, maaf Dodo tidak jujur. Dodo yang menghabiskan semua es lilin Bunda. Ini uangnya. Jangan marah ya Bun.”

Bunda tersenyum kecil membaca tulisan buah hatinya tersebut.
Sejak hari itu Dodo tidak pernah berbohong lagi. Es lilin ? Jangan ditanya. Ia hampir selalu membayarnya meskipun terkadang ia harus berutang karena kehabisan uang. HEHE.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s