Menunggu untuk Kembali

“Jika aku tidak memutuskannya, mungkin kita bisa..” ucap Lara dalam hati saat merenungkan sesuat.

“Ah.. tidak tidak ! Aku mikir apa sih?” teriaknya tiba-tiba di kamar.

Selalu seperti ini. Setiap hari saat semester liburan tiba dan ia harus kembali ke kampung halamannya di Jogja, sesuatu itu selalu menghantuinya. Tiba-tiba ponsel Lara berbunyi menandakan sebuah pesan Line yang masuk.

            Hei, jadi bagaimana ? Kita bisa bertemu? Aku ingin cerita. Hanya sebuah pesan pendek. Pengirimnya Eka. Namun, meski hanya sesingkat itu, pesan tersebut mampu membuat Lara berpikir keras.

Sambil menggigiti kukunya, ia berpikir. Ia nggak  ya, ia nggak ya. Lara pun menghela napas.

“Hah.. sepertinya tidak deh. Aku tak ingin menganggunya lagi. Semua sudah berakhir,” ucapnya menutup perdebatan dalam hatinya.

Tak lama kemudian, panggilan ibu Lara membuatnya turun dari kasurnya dan membantu pekerjaan rumah. Lara senang bermain bersama keponakan-keponakannya. Tiada hari tanpa tawa bersama mereka, menurutnya. Meski senakal apapun mereka, tetapi keponakannya selalu meminta maaf setelahnya.

Hari berganti hari dan hari kepulangan Lara ke Makassar untuk kembali berkuliah pun semakin dekat.

            Tring !

Bunyi ponselnya menandakan pesan yang masuk. Lara pun segera membacanya. Ia menghela napas. Pesan dengan format berbeda, tetapi bernada sama. Pengirimnya ? Tentu saja Eka. Setiap hari mereka selalu ber-chatting ria dan membahas ini-itu. Bagi Lara, semuanya menyenangkan, kecuali ketika Eka menanyakan kapan mereka bisa bertemu. Hal yang sebenarnya Lara pun ingin lakukan, tetapi ia tak bisa. Tak bisa hari ini, tak bisa esok, ataupun nanti.

Lara pun memutuskan untuk membalas pesan Eka dengan jawaban singkat. Aku tak bisa, maaf. Sudah ada urusan keluarga. Lara tak berbohong. Setiap harinya ia selalu mengurus rumahnya dan keponakan-keponakannya. Ia tak pernah suka bermain di luar rumah dan kampungnya. Alasannya, ia selalu beranggapan, saat pulang ke rumah adalah waktunya untuk bersama keluarga karena ia merindukan keluarganya.

*****

            “Cih ! Selalu begitu. Selalu alasan itu. Tidak ada alasan lain apa ? “ marah Eka dalam hatinya saat melihat pesan yang muncul di ponselnya.

Ia menghela napas dan berbaring di kasurnya. Eka tahu Lara tak bohong tentang urusannya. Bohong bukanlah kebiasaan yang dilakukan Lara. Akan tetapi, ia sungguh tak mengerti dengan alasannya untuk menghindarinya. Lara bilang mereka akan kembali berteman. Kembali seperti sedia kala. Namun, ketika Eka memintanya untuk bertemu sebagai teman saja susahnya minta ampun.

“Mungkin aku salah langkah lagi kali ini, sama seperti kemarin,” ucapnya pada diri sendiri. Ia menatap pigura yang terletak di samping tempat tidurnya. “Kau memintaku untuk menganggapmu teman, kau tahu itu tak mungkin Lara,” katanya lagi dengan lirih sambil menatap pigura itu hingga akhirnya Eka memejamkan kedua matanya dan menyerah untuk tidur.

Pigura itu seakan mengolok-olok Eka dengan dirinya saat ini. Pada pigura itu tampak Eka dan Lara yang sedang duduk di sebuah photobox dan tersenyum.

*****

            Eka bangun dari tempat tidurnya ketika matahari sudah mulai tinggi. Ia teringat akan janji bertemu dengan teman-teman SD-nya. Eka pun bergegas bersiap untuk menemui teman-temannya.

Sesampainya di sana, ia sudah berbaur dengan teman-temannya. Namun, ada saat di mana ketika sepi hadir, di situlah ia merasa Lara hadir. Seakan-akan bayangan Lara tahu kapan ia dibutuhkan oleh Eka untuk hadir. Namun, hal itu tentu menyakitkan bagi Eka yang sudah tak bersama dengan Lara lagi.

Tiba-tiba saja temannya berceletuk, “Jalan-jalan, yuk !”

“Iya, ke Madakaripura yuk !,” celetuk lainnya.

Tanpa disadarinya, teman-temannya sudah setuju untuk berangkat ke Madakaripura pada hari itu juga. Mau tak mau, ia pun mengikuti teman-temannya. Bodo amat dengan pertemuan dengan Lara, pikirnya.

Terkaget dengan dirinya sendiri yang menyebut Lara dalam pikirannya, ia pun memutuskan untuk menanyakan suatu hal pada Lara. Kapan kau pulang ?

Tak butuh waktu lama untuk jawaban Lara yang segera tiba beberapa menit kemudian. Dua hari lagi.

E : Aku harus ke gunung hari ini. Penting.

L : Oh. Oke, hati-hati ya Ka.

E : Oke.

            Pesan terkirim. Awalnya Eka membiarkannya hingga satu bayangan scenario masuk ke dalam benaknya dan menyadarkannya. Aduh bego ! Harusnya aku nggak bilang ‘Oke’ doang. Oke, aku  balas lagi saja biar aku masih bisa berchatting dengannya, pikirnya. Belum lama pikiran itu masuk dan menuliskan idenya, pesan baru telah masuk dalam ponsel Eka lagi. Tring!

            Lara : Ya.

Satu pesan. Satu kata tapi mampu menunjukkan perasaan Lara yang sebenarnya. Sial! Ia marah. Pasti. Tidak mungkin tidak. Aku tahu bagaimana dia. Dasar bodoh kau Eka!  batin Eka.  Tak ingin berdebat lebih jauh dengan pikirannya, Eka pun mematikan ponselnya dan segera bersiap melajukan motornya menuju Madakaripura bersama sahabat-sahabat terbaiknya.

*****

Dua hari kemudian

“Mbak.. ayo berangkat. Nggak siap-siap, to ?” tanya ibu Lara dari lantai 1 rumah mereka.

“Ya, bu. Sebentar,” jawab Lara.

Lara segera turun dari tempat tidurnya dan bersiap. Pukul 06.30, ia telah siap berangkat. Ibunya memberikan sarapan pagi itu dan Lara pun tenang memakannya hingga ponselnya berbunyi. Tring!

Eka : Aku menunggu di stasiun ya. Eka.

            Uhuk-uhuk. Lara tersedak makanannya sendiri hingga membuat bingung saudara-saudaranya.

“Kau kenapa, Mbak ?” Tanya ibu Lara.

“Aku tak apa-apa, Bu, hanya tersedak biasa,” ucap Lara mencoba terlihat tenang.

Apa-apaan dia ini ? batin Lara. Ya sudahlah terserah dia saja. Batin Lara menengahi perdebatan di pikirannya.

“Jangan makan terlalu cepat, Mbak. Itu minumnya jangan lupa diminum juga,” kata ibu Lara mengingatkan.

Selesainya sarapan, Lara pun berangkat diantarkan ibunya dan tak lupa ia pun berpamitan.

Memasuki stasiun, ia melayangkan pandangannya ke sekitarnya. Ia melihat satu persatu orang yang berada di stasiun, tetapi ia tak menemukan Eka.

            Apa ia berbohong padaku ya ? pikir Lara dalam hati. Ia melirik jam tangan di tangannya yang sekarang menunjukkan 08.00. Lara segera menuju tempat pencetakan tiket dan mencetak tiketnya. Ia melirik lagi jamnya. 08.10. Lima menit lagi keretanya akan berangkat.

Lara kesal. Ya sudahlah, mungkin ia hanya mempermainkanku. Lara pun segera memakai tas punggungnya dan membawa kresek oleh-oleh di tangannya. Ketika ia berjalan, seorang yang dianggapnya porter memanggilnya dari belakang.

“Bisa saya bantu bawa barangnya, mbak ?” ucap porter itu lembut. Namun sayang, Lara yang sudah kesal hanya membalas pendek porter tersebut tanpa menoleh ke arahnya. “Nggak usah, makasih Mas,” ucapnya sambil berlalu menuju keretanya. Laki-laki yang dianggap porter tersebut hanya tersenyum melihat kepergian Lara.

Dasar pembohong. Huh sebal ! batin Lara dalam hati ketika ia sampai di tempat duduknya. Ia segera menaruh tasnya dan melihat ada barang yang dimasukkan dalam kreseknya. Barang itu terbungkus kertas kado. Punya siapa ? Perasaan tadi tidak ada deh, batin Lara. Ia pun membukanya dan menemukan sebuah kerudung berwarna biru, warna yang selalu disukainya. Kerudung itu ditempeli sebuah kertas dengan tulisan di dalamnya.

            Karena merpati terbaik selalu pulang, maka aku akan selalu menunggunya. Hingga ia pulang dan singgah untuk selamanya. Jika ia memang berniat begitu. Eka.

Dasar kau bodoh Ka, batin Lara. Lara pun tersenyum.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s