Menjadi orang tengah dalam bermedia

1513060739406Sumedang- Masalah berita Hoax seakan tak ada habisnya saat ini. Menteri Komunikasi dan Informatika RI (Kominfo) Rudiantara menggambarkan fenomena ini sebagai hal yang mati satu lalu tumbuh seribu. Oleh karenanya, Kementerian Kominfo bekerjasama dengan Universitas Padjadjaran menggelar seminar bertajuk “Bijak Bermedia Sosial” di Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran di Jatinangor pada Selasa (12/12).

 

Dalam acara ini Staf Ahli Kominfo Gungun Suwadi menyatakan data banyaknya berita hoax atau berita bohong yang menyebar saat ini.

 

“Sebanyak hampir 800.000 berita hoax tersebar sudah kita hapus. Banyak sekali yang bertebaran mulai SARA, pornografi, hingga radikalisme,” kata Gungun ketika presentasi di hadapan mahasiswa dan civitas akademika Fikom Unpad.

 

Dekan Fakultas Ilmu Komunikasi Unpad Dadang Rachmat Hidayat pun mengatakan pentingnya bijak bermedia mahasiswa saat ini. Pasalnya, berita hoax yang saat ini menyebar paling banyak melalui media sosial.

 

“Sebenarnya masalah orang saat ini adalah kurangnya etika bermedia. Ketika kita  menerima berita, itu tidak lantas menerima lalu menyebar. Namu, diperiksa terlebih dahulu. Verifikasi dulu. Jika beritanya benar lalu dicek kembali, apakah beritanya cocok untuk disebarkan ataukah tidak,” kata Dadang.

 

Dekan Fikom Unpad ini mencontohkan dengan adanya tabrakan di Jatinangor, misalnya. Meski berita tabrakan ini tergolong fakta dan benar terjadi tetapi menyebarkan gambar atau video berdarah-darah dalam kejadian tersebut tidak dibenarkan. Hal ini disebabkan adanya nilai kepatutan dan etika dalam pers pula sehingga tidak semua hal dapat disebarkan begitu saja.

 

Sementara itu, ahli sosial media Nukman Luthfie mengatakan pentingnya menjadi orang tengah untuk menjadi orang yang bijak bermedia sosial.

 

“Tidak perlu kita terlalu membenci dan tidak pula kita perlu terlalu cinta. Sedang-sedang saja,” ujarnya.

 

Nukman mengatakan, orang saat ini seringkali mencintai atau membenci suatu kubu sehingga apapun yang diberitakan ketika itu menyinggung kebaikan atau keburukan suatu pihak, maka hal itu akan dianggap hoax atau kebohongan. Kebutaan inilah yang kemudian menjadikan seseorang tidak bijak bermedia sosial.

 

“Meski terlihat akan lebih mudah membuat konten positif atau “cyber army”, tetapi bijak bermedia itu harus ada. Jadi, tak usah terlalu cinta dan terlalu benci,” ujar Nukman menengahi.

 

Gungun dari pihak Kominfo pun menambahkan, pihak “cyber army” pemerintah pun sudah ada, tetapi Gungun mengatakan, negara tidak hanya butuh “cyber army” untuk melawan berita hoax saat ini, tetapi pun teknologi yang canggih.

 

“Seperti paparan Nukman, memang seharusnya kita manfaatkan teknologi kembali. Dengan teknologi saat ini mudah kok untuk mencari sumber awal dari hoax itu sendiri. Kita bisa telusuri sumbernya dan menyelesaikan ini, tetapi tetap butuh untuk adanya masyarakat yang bijak bermedia agar tidak viral hal yang jelas hoax seperti ini,” ujarnya.

 

Dekan Fikom Dadang pun mengatakan pentingnya memahami konsep berkomunikasi yang irreversible atau tidak dapat dikembalikan.

 

“Meski sekarang ada tombol delete pada pesan Whatsapp misalnya, tapi tetap saja ada kemungkinan untuk terbacanya pesan oleh siapapun. Maka, kebijakan dalam bermedia sosial dan memahami konsep irreversible bahwa komunikasi yang tidak dapat diulang atau ditarik kembali itu penting sehingga kita bijak menanggapi sesuatu,” tutupnya.

 

#bijakbermedsos

#flashblogging

#beranibicarabaik

#maribicarabaik

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s